Menurutnya, lahan pertanian di wilayah tersebut sebenarnya sangat subur. Dengan sistem pengairan yang baik, produktivitas padi mampu mencapai sekitar 7 hingga 7,5 ton gabah per hektare.
Poktan Sidomulyo di Dukuh Bancak mengelola sekitar 65 hektare lahan pertanian. Namun, hanya sekitar 45 hektare yang saat ini rutin ditanami, sedangkan sisanya menjadi lahan tidur karena petani khawatir mengalami gagal panen akibat persoalan pengairan, setelah pendangkalan sungai tak tertangani.
Tak hanya itu, dampak pendangkalan sungai juga dirasakan lebih luas. Secara keseluruhan, areal pertanian di Desa Payaman yang meliputi Dukuh Bancak, Dukuh Payaman, dan Dukuh Karanganyar diperkirakan mencapai sekitar 250 hektare dan bergantung pada kelancaran aliran Sungai JU-1.
Petani, lanjut Sugeng, telah berulang kali mengusulkan normalisasi Sungai JU-1 kepada pemerintah. Namun hingga kini usulan tersebut belum terealisasi sehingga persoalan banjir saat musim hujan dan kekeringan saat kemarau terus berulang setiap tahun.
Ia berharap pemerintah bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) segera merealisasikan normalisasi Sungai JU-1 agar aliran air kembali normal. Sehingga risiko banjir dan kekeringan dapat ditekan, serta produktivitas pertanian meningkat untuk mendukung ketahanan pangan.
Sementara itu, Kepala UPTD Sarana Alat Berat Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Kudus Darwanto membenarkan keluhan terkait pendangkalan Sungai JU-1 tidak hanya datang dari Desa Payaman.
Aspirasi serupa juga disampaikan petani di Desa Kirig, Temulus, dan Gulang yang sama-sama bergantung pada aliran sungai tersebut. Menurut Darwanto, penanganan pendangkalan Sungai Juwana dan JU-1 memerlukan koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) karena merupakan pekerjaan berskala besar.
”Kalau untuk sistem JU-1 memang masih harus kami koordinasikan karena itu pekerjaan besar. Kewenangannya ada di BBWS,” tandasnya.
Murianews, Kudus – Petani di Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus mengeluhkan pendangkalan Sungai Juwana dan JU-1 (Juana-Undaan 1). Pasalnya kondisi ini sudah berlangsung sekitar 15 tahun.
Pendangkalan Sungai Juwana itu akhirnya menimbulkan dampak. Areal persawahan warga kerap kebanjiran saat musim hujan, tetapi mengalami kekeringan ketika musim kemarau.
Ketua Poktan Sidomulyo Dukuh Bancak, Desa Payaman, Kecamatan Mejobo, Sugeng mengatakan, selama sekitar 15 tahun terakhir Sungai JU-1 belum pernah dinormalisasi secara menyeluruh.
Akibat terjadi pendangkalan sungai, yang membuat aliran air menuju kawasan persawahan tidak lagi optimal. Sehingga sebagian besar petani kini hanya berani menanam padi satu kali dalam setahun.
”Kalau dulu sebelum pendangkalan sungainya terjadi, petani bisa tanam sampai tiga kali. Sekarang paling berani satu kali setahun karena kondisinya tidak memungkinkan,” ujarnya, Sabtu (25/7/2026).
Ia menjelaskan, saat musim hujan pendangkalan Sungai JU-1, terutama dari wilayah Temulus hingga Bulung, membuat aliran air tidak lagi lancar. Akibatnya, air kerap tertahan dan meluap hingga menggenangi areal persawahan.
Sebaliknya, saat musim kemarau seperti sekarang, aliran air dari Sungai JU-1 tidak mampu menjangkau lahan pertanian. Semua karena pendangkalan sungai yang terjadi.
Petani pun hanya mengandalkan rembesan air dan cadangan air dari Rawa Kirig yang dipompa ke sawah sebagai solusi sementara. Kondisi tersebut membuat banyak petani tidak berani menanam karena khawatir kekurangan air.
”Masalahnya bukan tanahnya, tetapi sungainya. Kalau aliran air lancar, kami minimal berani tanam dua kali setahun. Dulu bahkan bisa sampai tiga kali,” katanya.
Lahan Subur...
Menurutnya, lahan pertanian di wilayah tersebut sebenarnya sangat subur. Dengan sistem pengairan yang baik, produktivitas padi mampu mencapai sekitar 7 hingga 7,5 ton gabah per hektare.
Poktan Sidomulyo di Dukuh Bancak mengelola sekitar 65 hektare lahan pertanian. Namun, hanya sekitar 45 hektare yang saat ini rutin ditanami, sedangkan sisanya menjadi lahan tidur karena petani khawatir mengalami gagal panen akibat persoalan pengairan, setelah pendangkalan sungai tak tertangani.
Tak hanya itu, dampak pendangkalan sungai juga dirasakan lebih luas. Secara keseluruhan, areal pertanian di Desa Payaman yang meliputi Dukuh Bancak, Dukuh Payaman, dan Dukuh Karanganyar diperkirakan mencapai sekitar 250 hektare dan bergantung pada kelancaran aliran Sungai JU-1.
Petani, lanjut Sugeng, telah berulang kali mengusulkan normalisasi Sungai JU-1 kepada pemerintah. Namun hingga kini usulan tersebut belum terealisasi sehingga persoalan banjir saat musim hujan dan kekeringan saat kemarau terus berulang setiap tahun.
Ia berharap pemerintah bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) segera merealisasikan normalisasi Sungai JU-1 agar aliran air kembali normal. Sehingga risiko banjir dan kekeringan dapat ditekan, serta produktivitas pertanian meningkat untuk mendukung ketahanan pangan.
Sementara itu, Kepala UPTD Sarana Alat Berat Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Kudus Darwanto membenarkan keluhan terkait pendangkalan Sungai JU-1 tidak hanya datang dari Desa Payaman.
Aspirasi serupa juga disampaikan petani di Desa Kirig, Temulus, dan Gulang yang sama-sama bergantung pada aliran sungai tersebut. Menurut Darwanto, penanganan pendangkalan Sungai Juwana dan JU-1 memerlukan koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) karena merupakan pekerjaan berskala besar.
”Kalau untuk sistem JU-1 memang masih harus kami koordinasikan karena itu pekerjaan besar. Kewenangannya ada di BBWS,” tandasnya.
Editor: Budi Santoso