Sabtu, 25 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Menurutnya, lahan pertanian di wilayah tersebut sebenarnya sangat subur. Dengan sistem pengairan yang baik, produktivitas padi mampu mencapai sekitar 7 hingga 7,5 ton gabah per hektare.

Poktan Sidomulyo di Dukuh Bancak mengelola sekitar 65 hektare lahan pertanian. Namun, hanya sekitar 45 hektare yang saat ini rutin ditanami, sedangkan sisanya menjadi lahan tidur karena petani khawatir mengalami gagal panen akibat persoalan pengairan, setelah pendangkalan sungai tak tertangani.

Tak hanya itu, dampak pendangkalan sungai juga dirasakan lebih luas. Secara keseluruhan, areal pertanian di Desa Payaman yang meliputi Dukuh Bancak, Dukuh Payaman, dan Dukuh Karanganyar diperkirakan mencapai sekitar 250 hektare dan bergantung pada kelancaran aliran Sungai JU-1.

Petani, lanjut Sugeng, telah berulang kali mengusulkan normalisasi Sungai JU-1 kepada pemerintah. Namun hingga kini usulan tersebut belum terealisasi sehingga persoalan banjir saat musim hujan dan kekeringan saat kemarau terus berulang setiap tahun.

Ia berharap pemerintah bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) segera merealisasikan normalisasi Sungai JU-1 agar aliran air kembali normal. Sehingga risiko banjir dan kekeringan dapat ditekan, serta produktivitas pertanian meningkat untuk mendukung ketahanan pangan.

Sementara itu, Kepala UPTD Sarana Alat Berat Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Kudus Darwanto membenarkan keluhan terkait pendangkalan Sungai JU-1 tidak hanya datang dari Desa Payaman.

Aspirasi serupa juga disampaikan petani di Desa Kirig, Temulus, dan Gulang yang sama-sama bergantung pada aliran sungai tersebut. Menurut Darwanto, penanganan pendangkalan Sungai Juwana dan JU-1 memerlukan koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) karena merupakan pekerjaan berskala besar.

”Kalau untuk sistem JU-1 memang masih harus kami koordinasikan karena itu pekerjaan besar. Kewenangannya ada di BBWS,” tandasnya.

Editor: Budi Santoso

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler