Sebagai bagian dari edukasi tersebut, peserta membuat gantungan kunci berbentuk kupu-kupu dari bungkus kopi bekas. Melalui kegiatan sederhana itu, anak-anak dikenalkan bahwa sampah plastik masih memiliki nilai guna apabila dikelola dengan benar.
Adam juga mengingatkan, sampah yang tidak dikelola dengan baik tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga mengancam kelestarian satwa seperti paus, kura-kura, hingga burung akibat menelan atau terjerat sampah plastik.
”Kami berharap generasi muda lebih sadar terhadap permasalahan sampah. Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal terkecil, dan mulai dari sekarang,” tandasnya.
Sementara itu, dalam kesempatan terpisah, Kepala UPT TPA Tanjungrejo Maeri Riani menyampaikan, volume sampah yang masuk ke TPA mencapai sekitar 205 ton per hari pada hari pelayanan atau rata-rata 143 ton per hari.
Pemkab Kudus pun menargetkan residu yang masuk ke lahan urug TPA hanya sekitar 10 persen atau sekitar 14–20 ton per hari.
”Harapan kami, masyarakat sudah memilah sampah sejak dari rumah sehingga yang masuk ke TPA semakin sedikit,” imbuhnya.
Murianews, Kudus – Kresek Indonesia mengajak anak-anak dan orang tua belajar mengelola sampah sejak dini dalam peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 di Pendapa Kabupaten Kudus, Minggu (26/7/2026).
Edukasi dilakukan melalui pembuatan gantungan kunci berbentuk kupu-kupu dari bungkus kopi bekas sekaligus mengenalkan cara mengurangi, memilah, dan mengolah sampah.
Founder Kresek Indonesia, Faesal Adam mengatakan, edukasi tersebut penting mengingat sebagian besar timbulan sampah di Kabupaten Kudus berasal dari rumah tangga.
Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2024, sebanyak 58,07 persen timbulan sampah di Kudus berasal dari sektor rumah tangga, dengan total mencapai 437,4 ton per hari.
”Tujuan kami mengedukasi masyarakat, terutama anak-anak dan orang tua, agar mulai mengurangi sampah terlebih dahulu, kemudian memanfaatkan sampah yang dihasilkan. Harapannya, kesadaran itu tumbuh sejak kecil sehingga ke depan mereka lebih peduli terhadap permasalahan sampah,” ujarnya pada Murianews.com.
Menurutnya, persoalan sampah tidak cukup diselesaikan hanya dengan mengangkutnya ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Sebab, cara tersebut hanya memindahkan masalah apabila tidak diiringi upaya pengurangan timbulan sampah dari masyarakat.
”Kalau kita bisa menyelesaikan sampah dari rumah, berarti kita sudah menyelesaikan sebagian besar persoalan sampah itu sendiri,” katanya.
Ia menjelaskan, Kresek Indonesia mengenalkan konsep cegah, pilah, dan olah sampah kepada peserta. Anak-anak diajak mengurangi timbulan sampah, memilah sampah sesuai jenisnya, kemudian mengolahnya menjadi barang yang bermanfaat.
Kreativitas...
Sebagai bagian dari edukasi tersebut, peserta membuat gantungan kunci berbentuk kupu-kupu dari bungkus kopi bekas. Melalui kegiatan sederhana itu, anak-anak dikenalkan bahwa sampah plastik masih memiliki nilai guna apabila dikelola dengan benar.
Adam juga mengingatkan, sampah yang tidak dikelola dengan baik tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga mengancam kelestarian satwa seperti paus, kura-kura, hingga burung akibat menelan atau terjerat sampah plastik.
”Kami berharap generasi muda lebih sadar terhadap permasalahan sampah. Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal terkecil, dan mulai dari sekarang,” tandasnya.
Sementara itu, dalam kesempatan terpisah, Kepala UPT TPA Tanjungrejo Maeri Riani menyampaikan, volume sampah yang masuk ke TPA mencapai sekitar 205 ton per hari pada hari pelayanan atau rata-rata 143 ton per hari.
Pemkab Kudus pun menargetkan residu yang masuk ke lahan urug TPA hanya sekitar 10 persen atau sekitar 14–20 ton per hari.
”Harapan kami, masyarakat sudah memilah sampah sejak dari rumah sehingga yang masuk ke TPA semakin sedikit,” imbuhnya.
Editor: Supriyadi