Menilik Prasasti Mihrab, Dasar Rekonstruksi Sejarah Hari Jadi Kudus
Wiwid Widia Yulhendrik
Senin, 27 Juli 2026 15:40:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Pada bagian akhir disebutkan waktu pembangunannya, yakni 19 Rajab 956 Hijriah yang bertepatan dengan 23 Agustus 1549 Masehi.
Menurutnya, nilai historis prasasti itu terletak pada penggunaan frasa banā dan balad al-Quds yang dimaknai sebagai deklarasi berdirinya kota Islam, penyebutan gelar Khalīfatullāhi fī al-arḍ sebagai penanda adanya struktur pemerintahan, serta penanggalan lengkap yang menjadi pijakan kronologi.
”Secara filologi dan epigrafi, prasasti ini merekam peristiwa yang bersifat foundational atau menjadi tonggak penting dalam sejarah Kudus. Karena itu, 19 Rajab 956 Hijriah atau 23 Agustus 1549 Masehi layak dipertimbangkan sebagai momentum berdirinya Kudus sebagai kota Islam,” jelasnya.
Kajian tersebut diperkuat arsitek sekaligus peneliti sejarah Dr Ir Revianto Budi Santosa, M.Arch. melalui materi Arsitektur Masjid Al-Aqsha: Identitas dan Inspirasi Peradaban Kudus.
Menurutnya, Masjid Al-Aqsha Kudus tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi penanda tumbuhnya peradaban Islam di Kudus.
Arsitektur masjid...
Baca Juga



