Menilik Prasasti Mihrab, Dasar Rekonstruksi Sejarah Hari Jadi Kudus
Wiwid Widia Yulhendrik
Senin, 27 Juli 2026 15:40:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Murianews, Kudus – Prasasti Mihrab Masjid Al-Aqsha Kudus dinilai sebagai sumber primer paling kuat dalam rekonstruksi sejarah Hari Jadi Kabupaten Kudus.
Hal itu disampaikan filolog Abdul Jawat Nur, S.S, M.Hum. dalam Seminar Rekonstruksi Historis Hari Jadi Kabupaten Kudus di Pendapa Kabupaten Kudus, Senin (27/7/2026).
Dalam paparannya, Prasasti Mihrab Masjid Al-Aqsha Kudus sebagai Sumber Primer Sejarah Kudus: Perspektif Filologi dan Epigrafi, Jawat menjelaskan, selama ini penelusuran sejarah awal Kudus lebih banyak bertumpu pada babad yang bercampur unsur mitologis.
Karena itu, keberadaan prasasti menjadi pijakan yang lebih ilmiah karena ditulis pada masa peristiwa berlangsung dan masih berada pada konteks aslinya.
”Prasasti Mihrab Al-Aqsha memiliki tarikh pasti 19 Rajab 956 Hijriah atau 23 Agustus 1549 Masehi sehingga menjadi sumber primer yang sangat penting untuk merekonstruksi sejarah Kudus,” paparnya.
Spesifikasi prasasti...
Ia menjelaskan, secara epigrafi prasasti tersebut dipahat pada batu andesit berukuran sekitar 120 x 40 sentimeter yang berada di atas mihrab Masjid Al-Aqsha.
Tulisan menggunakan khat Tsuluts kuno bergaya Gujarat-Pesisir dengan penanggalan lengkap yang telah diverifikasi secara astronomis sehingga validitasnya dinilai sangat kuat.
Dalam pembacaannya, Jawat menunjukkan bagian penting prasasti yang berbunyi “...bi balad al-Quds... al-masjid al-manar... al-Qadhi Ja’far Ash-Shadiq... sanat sittin wa khamsin wa tis’imi’atin min al-hijrah...”.
Menurutnya, frasa tersebut memuat penyebutan Kota Kudus (al-Quds), Masjid Al-Manar, nama Al-Qadhi Ja’far Ash-Shadiq atau Sunan Kudus, serta penanggalan pembangunan masjid pada 19 Rajab 956 Hijriah.
Dalam alih bahasa yang dipaparkannya, prasasti diawali dengan basmalah, kemudian menjelaskan pembangunan Masjid Al-Aqsha dan negeri Al-Quds oleh Al-Qadhi Ja’far Ash-Shadiq sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT dan mengikuti sunah Rasulullah.
Waktu pembangunan...
Pada bagian akhir disebutkan waktu pembangunannya, yakni 19 Rajab 956 Hijriah yang bertepatan dengan 23 Agustus 1549 Masehi.
Menurutnya, nilai historis prasasti itu terletak pada penggunaan frasa banā dan balad al-Quds yang dimaknai sebagai deklarasi berdirinya kota Islam, penyebutan gelar Khalīfatullāhi fī al-arḍ sebagai penanda adanya struktur pemerintahan, serta penanggalan lengkap yang menjadi pijakan kronologi.
”Secara filologi dan epigrafi, prasasti ini merekam peristiwa yang bersifat foundational atau menjadi tonggak penting dalam sejarah Kudus. Karena itu, 19 Rajab 956 Hijriah atau 23 Agustus 1549 Masehi layak dipertimbangkan sebagai momentum berdirinya Kudus sebagai kota Islam,” jelasnya.
Kajian tersebut diperkuat arsitek sekaligus peneliti sejarah Dr Ir Revianto Budi Santosa, M.Arch. melalui materi Arsitektur Masjid Al-Aqsha: Identitas dan Inspirasi Peradaban Kudus.
Menurutnya, Masjid Al-Aqsha Kudus tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi penanda tumbuhnya peradaban Islam di Kudus.
Arsitektur masjid...
Ia menjelaskan, identitas arsitektur masjid tercermin dari keberlanjutan elemen-elemen bangunan sejak abad ke-16 meski mengalami berbagai pengembangan pada masa berikutnya.
Menurutnya, dinamika tersebut justru menunjukkan kesinambungan peradaban Islam di Kudus tanpa menghilangkan jejak bangunan awal sebagai identitas sejarah kota.
”Arsitektur Masjid Al-Aqsha bukan hanya warisan fisik, tetapi juga menjadi identitas dan inspirasi peradaban Kudus yang harus terus dijaga,” ujarnya.
Editor: Anggara Jiwandhana



