Ia juga menekankan prinsip Satu Tim, Satu Kapal, di mana organisasi harus dipandang sebagai satu kesatuan utuh tanpa keberhasilan parsial.
Yassierli pun meminta agar setiap uni menghapus ego sectoral dan dapat bekerja kolaboratif serta memiliki tujuan serta sense of crisis yang sama.
”Kolaborasi harus dikedepankan, bukan kompetisi. Kebersamaan itu indah,” tegasnya.
Praktik ini menekankan meritokrasi di atas senioritas. Pegawai akan diuji potensinya lewat penugasan strategis, proyek penting, atau stretch assignment.
Murianews, Bandung – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), Yassierli menegaskan, integritas dan profesionalisme merupakan harga mati dalam pemberian pelayanan publik, termasuk pada pengguna Tenaga Kerja Asing (TKA).
Nilai-nilai itu kemudian diikuti dengan kepedulian pada persoalan di lapangan, yang kemudian berwujud pekerjaan yang bermakna, melampaui kewajiban formal serta semangat kebersamaan di Kemnaker.
Itu diungkapkannya dalam Forum Diskusi Layanan Penggunaan Tenaga Kerja Asing di BBPKK Bandung Barat, Jumat (30/1/2026).
”Nilai-nilai ini menjadi fondasi untuk pelayanan publik yang profesional, adil, dan berdampak bagi masyarakat,” ujarnya, dalam katerangan resminya, Senin (2/2/2026).
Di kesempatan itu, Yassierli menekankan konsep Meaningful Work: Beyond the Duty, di mana kerja tidak lahir dari jabatkan, melainkan dari pekerjaan yang dijalankan setiap hari.
Apakah itu yang terlihat maupun yang tidak. Dengan melampaui kewajiban formal, ia melanjutkan, seorang aparatur dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
”Ketika dampak itu dirasakan, makna muncul. Hal ini memberi energi, komitmen, dan memperkuat organisasi dalam jangka panjang,” jelas Yassierli.
Satu Tim...
Ia juga menekankan prinsip Satu Tim, Satu Kapal, di mana organisasi harus dipandang sebagai satu kesatuan utuh tanpa keberhasilan parsial.
Yassierli pun meminta agar setiap uni menghapus ego sectoral dan dapat bekerja kolaboratif serta memiliki tujuan serta sense of crisis yang sama.
”Kolaborasi harus dikedepankan, bukan kompetisi. Kebersamaan itu indah,” tegasnya.
Dalam pengelolaan SDM, Menaker Yassierli juga menyoroti prinsip Right Person, Right Position. Pada prinsip ini, pegawai ditempatkan berdasarkan kompetensi, potensi, dan kinerja, dengan integritas maupun moralitas sebagai syarat utama.
Praktik ini menekankan meritokrasi di atas senioritas. Pegawai akan diuji potensinya lewat penugasan strategis, proyek penting, atau stretch assignment.
Pengembangan...
Akses pengembangan juga diberikan secara adil melalui talent pool, mentoring, dan rotasi lintas fungsi.
Menurutnya, pendekatan itu akan meningkatkan keterlibatan, memunculkan talenta tersembunyi, memperkuat kepercayaan karena promosi dan penugasan dilakukan secara rasional dan transparan.
Pada kesempatan itu, Menaker memperkenalkan konsep People-Centric Organization. Kondep ini menempatkan marwah dan kebanggaan aparatur sebagai fokus utama.
Dengan semangat The Power of One, sistem kerja berbasis peran atau role-based, serta metode yang lincah dan meritokratis, lingkungan kerja dirancang aman untuk bertumbuh dan berani menyampaikan pendapat (speak up)
”Spirit organisasi kita adalah A Nice Place to Grow, tempat para pegawai bisa berkembang, berinovasi, dan merasa bangga dalam bekerja. Semua ini dibangun di atas fondasi nilai organisasi dan kepemimpinan yang kuat,” ucapnya.