Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Murianews, Kudus – Bupati Kudus HM Hartopo mengungkapkan jika Kabupaten Kudus, Jawa Tengah (Jateng), saat ini belum termasuk kategori darurat kekeringan. Meski memang sejumlah desa di Kota Kretek kini tengah kekurangan air bersih.
”Kalau darurat kami rasa belum sampai ke sana, memang sudah ada (Kekeringan) tapi masih tertangani dengan baik,” ujarnya, Kamis (7/9/2023).
Hartopo pun memastikan instansi terkait seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus sudah punya strategi untuk menanggulangi kekurangan air bersih ini.
Pihaknya juga telah mengajak swasta untuk ikut terjun dalam menyediakan kebutuhan air bersih bilamana nanti kekeringan tersebut meluas.
”Semuanya, Sukun, Pura, Djarum, Nojorono juga sudah oke, semua instansi kami ajak untuk menanggulangi ini,” ungkapnya.
Diketahui sudah ada lima desa yang kini mengalami kekeringan akibat kemarau panjang. Dengan jumlah jiwa terdampak mencapai 1.592 jiwa.
Data dari BPBD Kabupaten Kudus, lima desa tersebut adalah Desa Setrokalangan, Desa Kedungdowo dan Desa Gamong di Kecamatan Kaliwungu. Sementara dua desa lainnya berada di Desa Gondoharum Kecamatan Jekulo dan Glagahwaru di Undaan.
Lebih rinci, untuk Desa Setrokalangan ada sebanyak260 jiwa yang kekurangan air bersih. Kemudian untuk Desa Kedungdowo ada sebanyak 270 jiwa, Desa Gamong ada sebanyak 280 jiwa dan Desa Gondoharum ada sebanyak 402 jiwa. Sementara untuk Desa Glagahwaru ada sebanyak 380 jiwa.
Editor: Cholis Anwar



