Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Murianews, Jepara – Terpuruk di Era Reformasi hingga bangkit merajut asa kembali sampai ke luar negeri. Begitulah singkatnya perjalanan si “Dewi Shinta”, untuk setidaknya masih tegak berdiri di antara puluhan perajin tenun ikat Troso yang mulai tumbang bergelimpungan dimakan teknologi.

Merek dagang toko kain Tenun Troso di Desa Troso RT 01/ RW 05, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah ini, tentu sudah diterjang badai berkali-kali.

Pendirinya adalah H. Hisyam Abdul Rahman. Sejak tahun 80-an mereka berdiri, banyak suka-duka, tawa-tangis, sepi-ramai yang terus mewarnai hari demi hari mereka. Era reformasi adalah ujian terberat. Tak ada penjualan dan ancaman kebangkrutan semakin mendekat.

Namun asa untuk membentangkan kain tenun Troso hingga Mancanegara, atau setidaknya tetap berdiri bersama para perajin yang tersisa, menempatkan mereka di situasi yang enggan untuk berhenti berkarya.

Begitu setidaknya sepenggal cerita yang diungkapkan oleh sang anak, Rian Hidayat. Dia kini adalah penerus perjuangan ayahnya untuk mengenalkan dan memasarkan tenun-tenun Troso hingga penjuru Indonesia bahkan di negara yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.

Kepada Murianews.com, Rian kembali mengulik bagaimana perjalanan si “Dewi Shinta” berjuang melewati segala permasalahan. Mulai dari pemasaran, krisis moneter hingga sumber daya manusia yang mulai ‘ditelan’ perusahaan-perusahaan asing.

Benar, banyak dari perajin kini beralih bekerja di pabrik-pabrik yang mulai tumbuh subur di Jepara.

Rian juga menceritakan bagaimana bantuan-bantuan juga datang untuk menopang Dewi Shinta agar tetap memancarkan kharisma tenun-tenun trosonya. Salah satunya, dari Pertamina.

”Bapak mendirikan Dewi Shinta ini di tahun 80-an, tentu banyak permasalahan di awal. Mulai pemasaran hingga apalagi kalau bukan modal,” katanya baru-baru ini.

Era reformasi adalah yang paling dia ingat. Pada era itu, Dewi Shinta benar-benar berjuang keras untuk tetap berdiri tegak dengan tetap mempertahankan ciri khasnya.

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler