Cerita Petani Punk Gunungkidul: Modal Nekat tapi Kini Berhasil
Anggara Jiwandhana
Jumat, 17 April 2026 08:02:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Murianews, Gunungkidul – Komunitas punk di Gunungkidul, DI Yogyakarta ini bisa dibilang patut dicontoh. Alih-alih menggunakan waktunya untuk kegiatan yang kurang pas, mereka justru berupaya untuk membangun komunitas petani muda dengan nama Petani Punk Gunungkidul.
Salah satu anggotanya adalah SiBagz. Ia mengajak pemuda setempat untuk mengolah lahan agar tidak hanya menjadi penonton di tanah sendiri.
SiBagz, mengaku gelisah melihat minimnya minat generasi muda terhadap pertanian. Kekhawatiran itu muncul pada 2018 saat ia melihat ladang hanya diisi oleh orang-orang tua.
”Tapi saat pulang ke rumah kepikiran, bagaimana ya kalau petani tidak ada regenerasinya,” ucapnya.
SiBagz bahkan nekat menggadaikan sertifikat tanah orang tuanya senilai Rp 25 juta untuk modal awal bertani di atas lahan pinjaman warga seluas 1.500 meter persegi. Meski awalnya tidak paham teknik bertani, ia terus belajar bersama 15 rekannya.
Berkembang...
- 1
- 2



