Minggu, 26 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Murianews, Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan serius terkait kondisi iklim di tanah air.

Musim kemarau tahun 2026 diprediksi akan datang lebih awal dan menjadi yang terpanjang serta paling kering dalam tiga dekade terakhir dibandingkan rata-rata klimatologisnya.

Ketua BMKG, Teuku Faisal Fathani mengatakan, hampir 50 persen Zona Musim (ZOM) di Indonesia mulai memasuki periode kemarau pada bulan April ini.

”Secara umum, musim kemarau di Indonesia datang sedikit lebih cepat. Kondisi ini menyebabkan durasinya menjadi lebih panjang dan sifatnya lebih kering jika dibandingkan rata-rata 30 tahun terakhir,” ungkap Faisal dikutip dari Antara, Selasa (14/4/2026).

Berdasarkan analisis BMKG, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026. Pada periode tersebut, mayoritas wilayah di Indonesia akan merasakan dampak kekeringan yang cukup signifikan, terutama di wilayah bagian selatan Khatulistiwa.

Faisal menyebutkan, Indonesia memiliki 699 zona musim dengan karakteristik geografis yang berbeda, sehingga waktu dimulainya kemarau tidak terjadi secara serentak. Wilayah NTT, NTB, dan Bali menjadi daerah awal yang memasuki kemarau pada April, disusul daerah lain pada bulan Mei.

”Meskipun masuk kemarau, bukan berarti tidak ada hujan sama sekali. Potensi hujan tetap ada, namun curahnya sangat rendah, yakni tidak lebih dari 150 milimeter per bulan,” tambahnya.

Menanggapi ancaman fenomena ini, BMKG mendesak pemerintah pusat maupun daerah untuk segera meningkatkan kesiapsiagaan dan langkah mitigasi.

Ancaman...

Dua ancaman utama yang membayangi adalah krisis air bersih (kekeringan) dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

”Kami terus mendorong penguatan mitigasi agar semua pihak siap untuk menghindari atau setidaknya mengurangi dampak buruk dari kekeringan yang akan terjadi,” tegas Faisal.

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Berita Terkini