Kamis, 23 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Murianews, Banyuwangi – Kepala Badan Komunikasi Republik Indonesia (Bakom RI) Muhammad Qodari mengungkapkan fakta mencengangkan terkait tingginya angka penguasaan perkebunan kelapa sawit ilegal di Indonesia.

Luas lahan sawit tanpa izin resmi tersebut diperkirakan mencapai 6 juta hektare atau setara 12 kali luas Pulau Bali.

Hal tersebut disampaikan Qodari saat melakukan kunjungan kerja dan peninjauan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu (22/7/2026).

”Ternyata kebun sawit ilegal di Indonesia luasnya mencapai 6 juta hektare. Besar sekali, 6 juta hektare itu kurang lebih separuh Pulau Jawa,” ujar Qodari dikutip dari Kompas.com, Kamis (23/7/2026).

Untuk memberikan gambaran konkret mengenai besarnya angka tersebut, Qodari membandingkannya dengan luas wilayah lain di Indonesia.

”Kalau dibandingkan dengan Bali, itu 12 kali Pulau Bali. Karena Pulau Bali itu luasnya sekitar setengah juta hektare saja. Dan temuan ini diungkap langsung oleh Presiden Prabowo,” katanya.

Menurut Qodari, temuan jutaan hektare perkebunan sawit ilegal merupakan bagian dari langkah tegas pemerintah dalam mengoreksi ketimpangan dan kejanggalan struktur ekonomi nasional.

Ia memaparkan bahwa selama ini Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia mencatatkan pertumbuhan rata-rata sekitar 5 persen per tahun, namun hasilnya tidak dinikmati secara merata oleh masyarakat kelas bawah.

”Teorinya, kalau kue ekonominya membesar, kelas menengahnya juga membesar. Namun yang terjadi justru kelas menengah mengalami penurunan, dan kelompok masyarakat hampir miskin justru meningkat,” ungkapnya.

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Berita Terkini

Terpopuler