Ki Bedil, Terduga Penjual Senjata Api Ilegal di Jabar Diringkus Polisi
Dani Agus
Senin, 13 April 2026 23:00:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Pada lokasi itu, polisi kembali menemukan berbagai jenis amunisi dalam jumlah cukup banyak, mulai dari peluru berbagai kaliber, proyektil, hingga peralatan seperti mata bor yang diduga digunakan dalam proses pembuatan senjata.
Tim kedua melakukan pengembangan ke wilayah Rancaekek Wetan, Kabupaten Bandung. Kemudian tim berhasil mengamankan terduga pelaku lain bernama TS atau Ki Bedil.
Dari tangan TS, polisi menyita empat buah popor senjata laras panjang, serta sejumlah alat yang digunakan untuk merakit senjata api.
Sementara itu, sosok AS (42), terduga pelaku penjualan senjata api ilegal (broker) yang diamankan aparat kepolisian, dikenal warga sekitar sebagai pribadi yang tertutup.
Ketua Rukun Tetangga (RT) Kampung Rancasepat Asep Rosadi mengatakan, pelaku lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah dan menyebut keberadaan terduga pelaku pun jarang diketahui warga karena aktivitas yang tidak menonjol.
”Jarang ngobrol saya sama dia (pelaku). Dia jarang di rumah jadi nggak ketemu. Saya tahu dia bukan orang asli sini, cuma istrinya asli orang sini," katanya saat dijumpai di Bandung, Senin (13/4/2026).
Menurut dia, keseharian terduga pelaku cenderung seperti pekerja pada umumnya, yakni berangkat pada pagi hari dan kembali ke rumah pada malam hari sehingga membuat interaksi dengan warga sekitar menjadi sangat minim.
”Setahunya pagi berangkat kerja, malam pulang. Jadi, memang jarang terlihat,” ujarnya.



