Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Dicky mengenang, saat itu yang sekolah di sana tak banyak. Satu kelas seangkatannya hanya 14 siswa. Dia lulus pada tahun 1986.

”Jaman saya hanya 14 orang, kelamaan muridnya semakin sedikit.Bahkan dulu pernah murid cuma 3 orang. Saya lulus SD tahun 1986, sudah 40 tahun,” ungkapnya.

Semula, sekolah tersebut hanya menerima siswa dari masyarakat Tionghoa. Namun pada era Orde Baru dan muncul kebijakan pemerintah tentang SD Inpers, sekolah menerima siswa di luar kaum Tionghoa.

Namun seiring berkembangnya zaman, masyarakat Tionghoa di Desa Welahan semakin berkurang. Seingatnya, terakhir jumlah siswa Sekolah Pusaka hanya tiga orang. Hingga akhirnya Sekolah Pusaka terpaksa ditutup sekitar tahun 2000-an.

Dengan kondisi bangunan yang kurang terawat seperti saat ini, Dicky berharap pemerintah bisa merawat Sekolah Tionghoa itu. Meskipun sulit menghidupkan sekolah itu lagi, paling tidak jejak sejarah itu bisa terawat dengan baik.

”Kami sudah bersurat kepada pemerintah. Sudah ada yang datang ke sini. Tapi belum ada jawaban yang jelas,” ucap Dicky.

Editor: Cholis Anwar

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler