Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Murianews, Jepara – Perajin lampion di Desa Purwogondo, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah (Jateng) ketiban berkah Ramadan. Mereka kini sudah mendapatkan pesanan untuk acara takbir keliling.
Salah satunya ialah Arif Rahman (55), warga RT 3 RW 1 Desa Purwogondo. Biasanya, selama Ramadan jumlah lampion yang dibuat biasanya mencapai 500-600 buah.
Pesanan tersebut untuk memenuhi permintaan dari para pedagang di Kudus. Satu pedagang biasanya memesan sekitar 100-150 buah lampion.
”Saya pedagang ada tiga, pesannya beda-beda. Ada yang 100, 150. Minggu pertama puasa kayak gini biasanya sudah mulai pada diambil,” kata Arif, Sabtu (8/3/2025).
Memasuki Ramadan ini, Arif sudah mendapatkan banyak orderan lampion. Bahan baku pembuatan lampion sudah menggunung di rumahnya.
Ada lima bentuk lampion yang ia buat, yaitu masjid besar, masjid kecil, karakter hello kitty, kapal, dan mobil.
Untuk lampion yang tidak dilengkapi lampu, ia jual dengan harga Rp 7 ribu per buah. Sedangkan yang dilengkapi dengan lampu, dijual dengan harga Rp 13 ribu per buah.
Sementara ini, Arif lebih banyak membuat lampion bentuk masjid. Sebelum di susun, kertas-kertas yang tersusun rapi di sudut rumahnya tersebut sudah di potong sesuai bentuk dari masing-masing lampion yang ia buat.
Untuk mencetak pola dari setiap bentuk lampion yang ia buat, potongan kertas tersebut tidak ia potong sendiri, tetapi ia bawa ke tukang pencetak kertas di Kudus.
Selain Ramadan...
Selain Ramadan, lanjut Arif, pesanan lampion menurutnya mulai ramai ketika bulan Syaban atau Ruwah. Sebab di bulan itu banyak warga Jepara yang mengadakan tradisi baratan.
Sedangkan saat Ramadan, pesanan lampion banyak datang dari para pedagang di Kudus. Menurutnya lampion itu banyak dijual pada saat mendekati Hari Raya Idulfitri sebagai persiapan pelaksanaan tradisi takbir keliling.
”Kalau Jepara biasanya ramai buat baratan di tanggal 15 Ruwah (Syaban), kalau puasa gini yang pesen banyak dari Kudus buat takbir keliling,” ujarnya.
Ia mengaku sudah cukup lama menggeluti usaha tersebut. Tidak hanya dirinya, istrinya juga menjadi pengrajin lampion namun yang berbentuk impes.
”Sudah lama, sudah lima tahun lebih bikin lampion. Dulu di sini banyak yang bikin, tapi sekarang sudah jarang, paling hanya yang sepuh-sepuh,” pungkasnya.
Editor: Zulkifli Fahmi



