Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Murianews, Jepara – Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah (Jateng) dihantam longsor dan banjir bandang yang mengakibatkan desa ini sempat terisolasi total. Ada sinyal khusus dari alam yang ditangkap oleh peneliti jauh sebelum bencana ini terjadi.

M Widjanarko, Ketua Pusat Studi Lingkungan Hidup dan Kebencanan LPPM Universitas Muria Kudus (UMK) menilai, bencana alam, baik banjir maupun tanah longsor yang terjadi saat ini, tidak terlepas dari curah hujan yang turun dengan deras.

”Tetapi kita tidak bisa menyalahkan alam,” kata Widjanarko kepada Murianews.com, Rabu (14/1/2026).

Berdasarkan catatan warga, bencana tahun ini merupakan yang paling besar dalam kurun waktu 20 tahun terakhir.

”Saya beberapa kali ke Tempur. Sering malah. Tahun 2006 dan 2014 saat ada bencana saya hadir untuk ikut respon,” kenang Widjanarko.

Menurutnya, Desa Tempur merupakan kawah purba Muria dengan geografis naik turun. Pasca banjir bandang 2006 dan 2014, masyarakat sudah paham mitigasi bencana.

Hanya saja, kata dia, terkadang alam tidak bisa dinegoisasi. Sehingga masyarakat acap kali lupa untuk selalu memitigasi bencana dan melakukan perawatan-perawatan sungai.

Apakah karena dampak deforestasi atau alihfungsi hutan menjadi lahan kopi?

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler