Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Murianews, Jepara – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Tengah (Jateng) menilai bencana alam yang terjadi di kawasan Muria Raya (Kudus, Pati dan Jepara) bukanlah karena curah hujan tinggi. Lebih dari itu, bencana ini diakibatkan kerusakan ekologis.

Dalam keterangan resmi tertulis yang diterima Murianews.com, Senin (19/1/2026), Walhi mencatat sejak awal Januari 2026, bencana longsor dan banjir terjadi bersamaan dari kawasan hulu Pegunungan Muria hingga hilir dan pesisir.

Deputi Direktur Walhi Jateng Nur Colis menyatakan, curah hujan tinggi bukanlah akar masalah. Melainkan pemicu dari kerusakan ekologis yang telah berlangsung lama.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan prediksi dini bahwa curah hujan kategori menengah hingga sangat tinggi akan berlangsung sesak Dasarian ke 2 Januari hingga Dasarian ke 2 Februari 2026.

Namun, kata Colis, peringatan dini ini tak diikuti dengan langkah mitigasi yang memadai. Baik dalam pengendalian aktivitas di kawasan hulu maupun dalam kesiapsiagaan wilayah rawan bencana.

”Bencana ini bukan tanpa peringatan. Informasi iklim tersedia, tetapi diabaikan. Negara gagal menerjemahkan peringatan dini menjadi kebijakan mitigasi yang melindungi keselamatan rakyat dan ruang hidupnya,” kata Colis.

Dia memaparkan, kajian Walhi menunjukkan bahwa bencana di Jateng berkaitan erat dengan kerusakan kawasan hulu pegunungan tengah.

Kemudian, melemahnya fungsi daerah aliran sungai (DAS), alihfungsi hutan, serta masifnya aktivitas dan perizinan berbasis ekonomi ekstraktif.

Kehilangan Tutupan Hutan... 

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler