Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Murianews, Jepara – Di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah (Jateng), tak ada kupat (ketupat) saat lebaran Idulfitri. Kuliner khas lebaran ini hanya bisa ditemukan sepekan setelahnya. Masyarakat Kota Ukir menyebutnya bada kupat atau lebaran ketupat.

Menjelang bada kupat, hampir di seluruh wilayah Jepara terdapat penjual janur atau daun kelapa muda. Penjual dadakan bertebaran di pinggir-pinggir jalan raya.

Salah satunya di Pasar Jepara II. Penjual janur mulai banyak bermunculan. Selain janur, penjual juga menjajakan kupat kosong dan tali bambu untuk lepet. 

Warga pun sudah banyak yang berburu kebutuhan utama bada kupat itu. Hari ini, Rabu (25/3/2026), lima hari sebelum bada kupat, warga sudah banyak membelinya.

Harganya beragam. Satu ikat janur utuh berisi 10 lembar, dijual Rp 5 ribu. Sedangkan 10 buah selongsong kupat, dijual seharga Rp 8 ribu.

”Saya beli sekarang. Mumpung harganya belum mahal,” kata Mirna, salah satu pembeli di Pasar Jepara II.

Mirna mengaku tak bisa membuat sendiri selongsong kupat. Sehingga mau tidak mau dia harus membeli yang sudah jadi.

”Setiap tahun saya selalu beli. Enggak bisa buat sendiri. Jadi harganya berapapun mau enggak mau haru beli,” ujar dia. 

Permintaan Meningkat...

Suparno, salah satu penjual asal Desa Mulyoharjo, Kecamatan Jepara, mengaku permintaan pembeli semakin meningkat seiring mendekati bada kupat. Dia sudah berjualan sejak lebaran hari ke tiga. 

Sementara ini, Parno masih mudah mendapatkan janur dari beberapa desa di Jepara. Namun harga dari petani atau pengepul sudah mulai naik.

”Sementara harganya masih belum naik tajam. Tapi saya kulakannya sudah mahal. Jadi mau tidak mau harus menyesuaikan. Untungnya pembelinya banyak. Mereka juga bisa memahami harga,” kata Parno.

Parno memprediksi harga janur maupun selongsong kupat dan berbagai kelengkapannya, akan naik mulai besok pagi. Sebab bukan tidak mungkin stok janur di kebun masyarakat semakin menipis.

”Seperti biasa, kalau dekat bada kupat, harganya semakin naik,” ucap dia.

Editor: Supriyadi

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler