Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.



Suasana semakin menegangkan ketika ribuan orang itu berkumpul di satu titik dan saling berdesakan. Tanpa aba-aba khusus, tawuran pun terjadi. Puluhan aparat keamanan yang berjaga langsung mencoba melerai tawuran di arena Jembul Tulakan ini.

Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat Desa Tulakan, aksi tawuran seperti itu sudah lumrah terjadi saban Jembul Tulakan berlangsung. Uniknya, amarah itu hanya diluapkan dan dituntaskan di lokasi acara.

Setelah acara selesai, semua kembali seperti semula. Saling berkawan dan seolah tak pernah terjadi apa-apa. Menurut Petinggi Tulakan, Budi Sutrisno, aksi tawuran di Jembul Tulakan bukan bagian dari tradisi ini. Rata-rata itu penonton. Bukan peserta yang ikut mengarak.

"Itu enggak apa-apa. Karena setelah prosesi Jembul selesai, semua selesai. Semua baik lagi. Tidak ada dendam," jelas Budi.

Editor: Budi Santoso

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler