Suasana semakin menegangkan ketika ribuan orang itu berkumpul di satu titik dan saling berdesakan. Tanpa aba-aba khusus, tawuran pun terjadi. Puluhan aparat keamanan yang berjaga langsung mencoba melerai tawuran di arena Jembul Tulakan ini.
Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat Desa Tulakan, aksi tawuran seperti itu sudah lumrah terjadi saban Jembul Tulakan berlangsung. Uniknya, amarah itu hanya diluapkan dan dituntaskan di lokasi acara.
Setelah acara selesai, semua kembali seperti semula. Saling berkawan dan seolah tak pernah terjadi apa-apa. Menurut Petinggi Tulakan, Budi Sutrisno, aksi tawuran di Jembul Tulakan bukan bagian dari tradisi ini. Rata-rata itu penonton. Bukan peserta yang ikut mengarak.
"Itu enggak apa-apa. Karena setelah prosesi Jembul selesai, semua selesai. Semua baik lagi. Tidak ada dendam," jelas Budi.
Murianews, Jepara - Ribuan masyarakat Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah (Jateng) merayakan sedekah bumi dengan tradisi Jembul Tulakan, Senin (20/4/2026). Ada tawuran massa di acara tradisi ini.
Tradisi Jembul Tulakan yang merupakan even tahunan itu memang sudah ditunggu-tunggu masyarakat dari berbagai kalangan. Mereka ingin menyaksikan arak-arakan Jembul Tulakan yang merupakan salah satu tradidi di Jepara ini.
Jembul adalah ancak atau gunungan yang terbuat dari iradan atau bambu yang disisir tipis. Bentuknya menyerupai rambut ikal atau jambul kepala. Setiap kelompok dari empat dusun membawa dua jembul dalam tradisi jembul tulakan ini.
Masing-masing adalah jembul lanang dan jembul wadon. Jembul diarak dari kejauhan menuju panggung di depan rumah kepala desa (kades) atau petinggi dalam tradisi Jembul Tulakan ini. Sambil diiringi tembang-tembang Jawa, jembul diarak. Sepanjang perjalanan, pengarak menari-nari.
Jembul ditandu, digoyang-goyangkan. Kadang kala diarahkan kepada penonton yang membuat mereka berlari kalang kabut. Dalam situasi itulah, seringkali terjadi gesekan antarpenonton dan pengarak jembul. Baku pukul pun tak terelakkan di Jembul Tulakan.
Setelah empat dusun menyerahkan jembul masing-masing di tradisi Jembul Tulakan, mereka tak langsung pulang. Mereka menunggu momen penjemputan jembul untuk dibawa pulang kembali.
Pada momen ini, mereka mengambil bambu-bambu yang tertancap di gunungan Jembul. Rupanya, itu dijadikan sebagai senjata untuk saling baku pukul.
Saat gunungan Jembul Tulakan hendak dipulangkan, massa dari seluruh dusun berkumpul. Mereka menanti momen saat gunungan mendekat. Ketika gunungan sudah berada di dekat, mereka merangsek dan langsung saling baku pukul terlibat tawuran massal.
Bukan Bagian Tradisi...
Suasana semakin menegangkan ketika ribuan orang itu berkumpul di satu titik dan saling berdesakan. Tanpa aba-aba khusus, tawuran pun terjadi. Puluhan aparat keamanan yang berjaga langsung mencoba melerai tawuran di arena Jembul Tulakan ini.
Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat Desa Tulakan, aksi tawuran seperti itu sudah lumrah terjadi saban Jembul Tulakan berlangsung. Uniknya, amarah itu hanya diluapkan dan dituntaskan di lokasi acara.
Setelah acara selesai, semua kembali seperti semula. Saling berkawan dan seolah tak pernah terjadi apa-apa. Menurut Petinggi Tulakan, Budi Sutrisno, aksi tawuran di Jembul Tulakan bukan bagian dari tradisi ini. Rata-rata itu penonton. Bukan peserta yang ikut mengarak.
"Itu enggak apa-apa. Karena setelah prosesi Jembul selesai, semua selesai. Semua baik lagi. Tidak ada dendam," jelas Budi.
Editor: Budi Santoso