Lonjakan Penumpang Jadi Saksi Beralihnya Stasiun Kereta Api Kudus
Muhamad Fatkhul Huda
Minggu, 22 Juni 2025 16:10:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Pemangkasan jadwal dan operasional dilakukan untuk memperpanjang napas perkeretaapian. Hal ini kemudian menimbulkan gejolak di kalangan pekerja sektor kereta api Indonesia kala itu.
”Pada tahun kedatangan Jepang ke Indonesia, awal 1940-an, pemangkasan jadwal keberangkatan kereta terjadi. Ini menambah muram dunia perkeretaapian di Kudus. Sebelumnya masyarakat juga sudah banyak yang beralih ke truk dan bus,” ungkap Hidayat.
Meski demikian, perkeretaapian di Indonesia tidak langsung meredup. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Djawatan Kereta Api Indonesia berhasil menyatukan kembali rel-rel di seluruh negeri.
Namun, Stasiun Kudus beserta geliatnya tidak mampu bertahan lama. Tepat pada tahun 1986, Stasiun Kudus bersama dengan beberapa stasiun lain di Indonesia secara resmi tidak lagi difungsikan oleh Pemerintah Indonesia.
”Infrastruktur yang sudah menua dan kalah bersaing dengan mobil dan bus yang lebih lincah melaju di jalanan aspal membuat keputusan itu tak terelakkan,” tegas Hidayat.
Editor: Cholis Anwar



