Sabtu, 25 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Murianews, Kudus – Rahtawu, desa kecil yang terletak di lereng Gunung Muria, Kabupaten Kudus ini terkenal dengan keindahan alam dan tradisi budaya yang memukau. Salah satu tradisi yang masih dijaga dan dilestarikan adalah Suronan.

Sebagai desa yang lekat dengan tradisi kebudayaan lokal, Desa Rahtawu menjadi salah satu destinasi wisata spiritual yang banyak dikunjungi masyarakat dari Kudus maupun luar kota. Khususnya saat 1 Suro

”Tradisi Suronan di Desa Rahtawu ini sebenarnya sama dengan yang lain, yang membedakan adalah kalau biasanya Suronan identik dengan tokoh islam kalau di Rahtawu lebih ke tokoh Jawa” kata Randi Gita Setyoko, Budayawan Rahtawu.

Randi mengungkapkan pengunjung yang datang kebanyakan berasal dari Pati, Demak, Jogja dan Solo. Mereka seringkali menginap di Petilasan tempat mereka berdoa. Dia juga mengungkapkan ada 68 Petilasan yang ditemukan di Desa Rahtawu.

”Rahtawu saat Suronan ini pengunjungnya bisa lebih dari sepuluh ribu, hal ini karena Rahtawu memiliki banyak Petilasan, mengingat Rahtawu ini sebagai salah satu desa cikal bakal tanah jawa berdiri” Ujar Randi.

Salah satu Petilasan yang paling ramai dikunjungi saat Suronan adalah Petilasaan Eyang Sakri. Hal ini disebabkan karena petilasan ini merupakan petilasan pertama yang ditemukan di Desa Rahtawu.

Warga dan pengunjung meyakini Eyang Sakri merupakan tokoh Desa Rahtawu terbentuk. Mereka biasanya membawa benda untuk di sucikan, berdoa dan bertapa di Petilasan.

”Tradisi suronan ini seringkali di salah artikan sebagai bagian dari hal mistis seperti minta pesugihan. Tapi kami meyakini roh itu ada, dan kunjungan mereka semata mata untuk berdoa sebagai bentuk dari rasa penghormatan kepada leluhur” Murdiyono (57), Pengunjung.

Menurutnya, ini juga sebagai salah satu bentuk “nguri nguri budaya” agar tidak terkikis oleh zaman. Dengan tradisi Suronan selain sebagai bentuk pensucian tapi juga momen mempererat tali silaturahmi dengan teman lama dan warga lokal terutama anak muda.

Penulis: Fitria Dwi Astuti (Mahasiswa Magang UMK)
Editor: Supriyadi

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Berita Terkini

Terpopuler