Info Haji 2026
Ini Jemaah Haji Termuda dan Tertua di Kecamatan Kota Kudus
Murianews
Sabtu, 7 Februari 2026 18:22:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Murianews, Kudus – Ibadah haji adalah panggilan rahasia Sang Khalik yang datang pada waktu dan jalan yang berbeda-beda bagi setiap insan.
Hal ini tergambar jelas pada dua sosok calon jemaah haji asal Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, yang memiliki rentang usia terpaut sangat jauh.
Tahun ini, Siti Sulistiawanti (27) tercatat sebagai jemaah haji termuda di Kecamatan Kota. Sementara itu, posisi jemaah tertua disandang oleh Mbah Ngaisah binti Salim (82).
Meski terpaut 55 tahun, keduanya memiliki semangat yang sama untuk menginjakkan kaki di Tanah Suci.
Keberangkatan Siti Sulistiawanti, yang akrab disapa Lilis, merupakan buah dari amanah almarhumah ibunya, Chotimah yang meninggal dalam masa tunggu haji.
Karena itu, ia mendapat pelimpahan hak haji sang ibu. Sang ayah, Mujiyo (56), bahkan melakukan pengurusan langsung ke Kementerian Agama pada 2025 lalu.
”Karena istri saya sudah tidak ada, saya mengurus pelimpahan ke anak saya sebagai ahli waris sebelum proses istithaah dimulai,” ujar Mujiyo.
Ia menyebut seluruh syarat pelimpahan telah dipenuhi dan pihak Kementerian Haji dan Umroh (Kemenhaj) Kudus membantu proses administrasi.
Kesiapan Haji...
Lilis juga telah melalui tahapan wawancara kesiapan ahli waris dan dinyatakan memenuhi syarat istithaah, baik fisik maupun mental.
Anak tunggal yang sehari-hari membantu ayahnya berjualan di kios Pasar Kliwon itu mengaku tak menyangka akan menggantikan sang ibu.
Sementara itu, Ngaisah binti Salim tercatat sebagai calon jemaah haji tertua. Warga Barongan ini telah mendaftar haji sejak Januari 2013 dan baru mendapat kesempatan berangkat di usia 82 tahun.
”Rasanya senang dan merasa terpanggil. Meski sudah sepuh, masih diberi rezeki ke rumah Allah,” katanya sambil berlinang air mata.
Sehari-hari, Mbah Ngaisah tetap aktif dengan membuat dan menjual kerupuk serta rengginang di rumahnya. Aktivitas tersebut membuatnya tetap bergerak dan bugar meski usianya tak lagi muda.
Untuk menjaga kebugaran, Mbah Ngaisah rutin jalan sehat setiap pagi usai salat Subuh, menjaga pola makan, dan fokus pada kesehatan. Ia tidak memiliki riwayat penyakit dan dinyatakan sehat walafiat.
Keberangkatan Mbah Ngaisah akan didampingi anak keduanya, Ratna Dwi Astuti, yang telah terdaftar haji sejak 2020 dan memenuhi syarat penggabungan pendamping.
Pembinaan...
Anak pertamanya, Mega Fatmaningsih, mengurus proses keberangkatan sang ibu.
Dalam pembinaan jemaah haji Kecamatan Kota, keduanya mengaku mendapat banyak bekal, mulai dari persiapan ibadah hingga wejangan menjaga kesehatan sebelum dan sesudah haji.
Reporter: Wiwid Widia Yulhendrik
Editor: Supriyadi



