Kariyem berjuang menghidupi lima anaknya dengan berjualan apa saja, sebelum akhirnya memilih menetap berjualan buah gayam saja.
Gayam menjadi buah yang populer di dusun Gayas dan sekitarnya karena banyak tumbuh di pekarangan. Pohon buah gayam sangat keras batangnya dan biasa dijadikan kayu bakar untuk memasak.
Besar buah gayam umumnya kira-kira tiga jari orang dewasa, cukup keras dan bisa dimakan usai direbus. Masyarakat sekitar lumayan menggemari buah gayam sehingga cukup laku dijual.
Hasil dari menjual gayam tak menentu. Namun belakangan Kariyem mampu membawa pulang Rp 100 ribu sekali jalan.
Tak setiap waktu ia menjual gayam. Bila sedang tidak musim, ia menjual getuk dan juga kacang rebus.
”Kalau gayam bisa sampai Rp 100 ribu. Kalau sedang tidak musim gayam, ya jualan getuk dan kacang rebus, dapatnya mungkin hanya Rp 50 ribuan,” imbuhnya.
Mbah Kariyem mendaftar nomor porsi haji pada 2012 silam. Saat itu, selain uang hasil menabungnya sendiri, anak-anaknya juga ikut iuran untuk menggenapi dana pendaftaran nomor porsi haji.
”Daftarnya tahun 2012, sekitar Rp 25 juta. Sebagian dari bantuan anak-anak. Tapi setelah ibu punya uang lagi, uang itu ada yang dikembalikan ke kami,” kata dia.
Namun, saat pelunasan tahun ini, seluruhnya merupakan uang hasil keringat Mbah Kariyem sendiri. Sadino menyebutkan, sekitar 80 persen merupakan uang hasil jerih payah sang ibu.
“Kami hanya membantu sebagian kecil, sekitar 75 persen sampai 80 persen dari uang ibu sendiri,” bebernya.
Murianews, Grobogan – Banyak kisah menarik dan inspiratif di antara mereka yang bisa menunaikan ibadah haji tahun 2026. Salah satunya adalah Mbah Kariyem, penjual buah gayam asal Dusun Gayas, Desa Ringinharjo, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.
Perempuan berusia 71 tahun itu akan berangkat ke Tanah Suci menunaikan ibadah haji tahun 2026 ini. Ia tergabung dalam kloter ke-29 dan dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci pada Kamis, 30 April 2026 mendatang.
Perjuangan Mbah Kariyem untuk dapat berangkat menunaikan rukun Islam kelima tidaklah mudah. Ibu lima anak itu harus menabung mengumpulkan dana haji selama bertahun-tahun usai suaminya meninggal puluhan tahun lalu.
Nenek 12 cucu itu tentu sangat bersyukur masih diberi kesempatan berangkat ke Tanah Suci di usianya yang sudah kepala tujuh.
”Alhamdulillah, sangat bersyukur bisa berangkat haji tahun ini. Gusti Allah masih memberi kesempatan saya untuk berangkat ke Makkah,” katanya, Jumat (3/4/2026).
Ia pun memohon doa agar diberikan kelancaran selama proses berangkat hingga kepulangan. Kemudian juga tentu agar menjadi haji yang mabrur.
“Saya mohon doanya agar diberi kelancaran, kesehatan dan menjadi haji mabrur,” imbuhnya.
Sadino, salah satu anak Kariyem menceritakan, sang ayah meninggal pada 1992 saat usianya baru 1,5 tahun. Sejak itu, sang ibu berjuang seorang diri membesarkan lima anak.
“Bapak meninggal saat saya masih bayi, tahun 1992, mungkin saya baru usia 1,5 tahun. Setelah itu tidak menikah lagi,” ujar dia.
Hasil Menjual Gayam Tak Menentu...
Kariyem berjuang menghidupi lima anaknya dengan berjualan apa saja, sebelum akhirnya memilih menetap berjualan buah gayam saja.
Gayam menjadi buah yang populer di dusun Gayas dan sekitarnya karena banyak tumbuh di pekarangan. Pohon buah gayam sangat keras batangnya dan biasa dijadikan kayu bakar untuk memasak.
Besar buah gayam umumnya kira-kira tiga jari orang dewasa, cukup keras dan bisa dimakan usai direbus. Masyarakat sekitar lumayan menggemari buah gayam sehingga cukup laku dijual.
Hasil dari menjual gayam tak menentu. Namun belakangan Kariyem mampu membawa pulang Rp 100 ribu sekali jalan.
Tak setiap waktu ia menjual gayam. Bila sedang tidak musim, ia menjual getuk dan juga kacang rebus.
”Kalau gayam bisa sampai Rp 100 ribu. Kalau sedang tidak musim gayam, ya jualan getuk dan kacang rebus, dapatnya mungkin hanya Rp 50 ribuan,” imbuhnya.
Mbah Kariyem mendaftar nomor porsi haji pada 2012 silam. Saat itu, selain uang hasil menabungnya sendiri, anak-anaknya juga ikut iuran untuk menggenapi dana pendaftaran nomor porsi haji.
”Daftarnya tahun 2012, sekitar Rp 25 juta. Sebagian dari bantuan anak-anak. Tapi setelah ibu punya uang lagi, uang itu ada yang dikembalikan ke kami,” kata dia.
Namun, saat pelunasan tahun ini, seluruhnya merupakan uang hasil keringat Mbah Kariyem sendiri. Sadino menyebutkan, sekitar 80 persen merupakan uang hasil jerih payah sang ibu.
“Kami hanya membantu sebagian kecil, sekitar 75 persen sampai 80 persen dari uang ibu sendiri,” bebernya.
Badan Pengelola Keuangan Haji...
Ia mengatakan, niat berhaji sudah muncul jauh sebelum 2012, namun ia mengaku tak tahu tepatnya. Uang yang dikumpulkan untuk mendaftar nomor porsi haji itu awalnya juga kadang-kadang dipakai untuk kebutuhan mendesak.
”Kadang-kadang uangnya kepakai, makanya kami ikut iuran saat mendaftar,” lanjutnya.
Meski biaya penyelenggaraan ibadah haji 2026 ini mencapai lebih dari Rp87,4 juta, namun Kariyem hanya melunasi sekitar Rp25 juta. Itu artinya, Kariyem bisa berangkat dengan biaya perjalanan ibadah haji hanya Rp50 juta.
”Untuk pelunasan sekitar Rp 25 juta. Kami tahunya itu yang harus dibayar. Jika ada nilai manfaat dari dana haji yang dikelola BPKH, kami berterima kasih,” ujarnya.
Memang tak semua biaya penyelenggaraan ibadah haji ditangguh Jemaah. Biaya penyelenggaraan ibadah haji sebagian ditopang dari manfaat pengelolaan dana jemaah yang dilakukan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH).
Manfaat itu didapatkan hasil pengembangan keuangan haji dari biaya pendaftaran nomor porsi senilai Rp25 juta yang disetorkan calon jemaah.
Selain aman, biaya atau dana pendaftaran nomor porsi haji dikembangkan melalui penempatan dan investasi yang aman, amanah, dan berkembang yang dilakukan BPKH. Itu artinya, dana haji yang sudah dikembangkan memiliki manfaat yang juga kembali kepada calon Jemaah haji.
Kini, Sadino pun berharap sang ibu diberikan kelancaran dalam serangkaian proses pemberangkatan hingga pulang nantinya.
Ia mengaku terus berkoordinasi dengan petugas haji untuk memastikan persyaratan seluruhnya terpenuhi. Kemudian juga termasuk jadwal pemberangkatan dan pemulangan.
”Kami mohon doanya semoga semuanya lancar dari berangkat sampai kepulangan nanti,” tandasnya.
Badan Pengelola Keuangan Haji...
Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Grobogan Ali Muhtarom menjelaskan, total biaya haji tahun ini sebanyak Rp87.409.365
Jika saat setoran awal dulu sudah membayar sekitar Rp25 juta, maka seharusnya saat pelunasan, besaran yang disetor sekitar Rp62 juta.
Namun, karena sebagian biaya haji ditopang manfaat dari pengelolaan dana haji BPKH, pelunasan yang dibayarkan sekitar Rp29 juta. Sisanya sekitar Rp33 juta ditanggung dari nilai pengembangan manfaat dana haji yang dilakukan BPKH.
“Biaya perjalanan ibadah haji (Bipih) untuk 2026 sebanyak Rp87.409.365. Dengan nilai manfaat dari BPKH sebesar Rp33.215.559, maka jemaah cukup membayar Rp54.193.806,” ujarnya.
Hal itu sejalan dengan data transparansi yang dikutip dari laman Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), yaitu biaya penyelenggaraan ibadah haji rata-rata nasional senilai Rp87.409.365. Sedangkan biaya perjalanan ibadah haji yang harus dibayarkan calon jemaah rata-rata nasional hanya Rp54.193.806.
Untuk diketahui, BPKH adalah lembaga negara Indonesia yang melakukan pengelolaan keuangan haji. BPKH dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Keuangan Haji dan resmi beroperasi pada tanggal 26 Juli 2017.(*)