Menurut keluarga besarnya, Ki Ageng Jalalain merupakan salah satu keturunan Pangeran Tembayat Klaten. Ki Ageng Jalalain disebut hidup di tahun 1800-an.
Hal itu diungkapkan Fathoni Ubaidillah, salah satu Trah Keluarga Besar Ki Ageng Jalalain atau Trah Kebalen kepada Murianews.com, Kamis (14/5/2026).
Fathoni berujar, Ki Ageng Jalalain merupakan nama julukan, sedangkan keluarga mengenalnya sebagai Mbah Surgi. Ki Ageng Jalalin disebut merupakan keturunan Pangeran Tembayat Klaten.
Kendati, memang di makam di Dusun Kedaton itu terdapat Ki Ageng Jalalain I dan Ki Ageng Jalalain II beserta istrinya.
Dijelaskannya, Mbah Surgi hidup di sekitar tahun 1800-an, bukan di sekitar tahun 1650-an sebagaimana klaim sumber lainnya. Ia juga menyatakan Mbah Surgi merupakan salah satu menantu Adipati (sebutan untuk bupati) wilayah Grobogan kala itu.
”Beliau itu keturunan Pangeran Tembayat Klaten, ke atasnya sampai Raden Sahid, Prabu Wilotikto itu. Terus beliau menjadi anak menantu Kanjeng Ratu Tumenggung (KRT) Kartoyudo.
Murianews, Grobogan – Sosok Ki Ageng Jalalain, tokoh penyebar agama Islam di Desa Pulorejo, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah menurut pandangan keluarga besar berbeda dibanding kisah yang selama ini beredar di sosial media.
Menurut keluarga besarnya, Ki Ageng Jalalain merupakan salah satu keturunan Pangeran Tembayat Klaten. Ki Ageng Jalalain disebut hidup di tahun 1800-an.
Hal itu diungkapkan Fathoni Ubaidillah, salah satu Trah Keluarga Besar Ki Ageng Jalalain atau Trah Kebalen kepada Murianews.com, Kamis (14/5/2026).
Fathoni berujar, Ki Ageng Jalalain merupakan nama julukan, sedangkan keluarga mengenalnya sebagai Mbah Surgi. Ki Ageng Jalalin disebut merupakan keturunan Pangeran Tembayat Klaten.
Kepada Murianews.com, ia juga menunjukkan buku berjudul ”Buku Silsilah Trah Kyai Ageng Jelalen Trah Kebalen, Purwodadi, Grobogan, Jateng”. Dengan tegas, Fathoni juga menyatakan tidak mengakui adanya juru kunci di makam Ki Ageng Jalalain.
Kendati, memang di makam di Dusun Kedaton itu terdapat Ki Ageng Jalalain I dan Ki Ageng Jalalain II beserta istrinya.
Dijelaskannya, Mbah Surgi hidup di sekitar tahun 1800-an, bukan di sekitar tahun 1650-an sebagaimana klaim sumber lainnya. Ia juga menyatakan Mbah Surgi merupakan salah satu menantu Adipati (sebutan untuk bupati) wilayah Grobogan kala itu.
”Beliau itu keturunan Pangeran Tembayat Klaten, ke atasnya sampai Raden Sahid, Prabu Wilotikto itu. Terus beliau menjadi anak menantu Kanjeng Ratu Tumenggung (KRT) Kartoyudo.
Ki Ageng Jalalain...
KRT Kartoyudo ini putra dari KRT Sutoyudo. Sutoyudo dan Kartoyudo ini ada dalam kepemimpinan Kabupaten Grobogan, menjabat Adipati di masa 1800-an,” ujar dia.
Namun demikian, Fathoni yang menyatakan keturunan ke-8 Ki Ageng Jalalain itu mengaku tidak mengetahui secara pasti bagaimana perjalanan Ki Ageng Jalalain bisa sampai ke Dusun Kedaton, Desa Pulorejo.
Ia menyatakan, tidak mendapat cerita dari bapak maupun kakeknya bagaimana Ki Ageng Jalalain itu pada akhirnya juga dimakamkan di Dusun Kedaton. Ia juga tidak berani berspekulasi atau mengarang cerita terkait perjalanan itu.
Namun, kata dia, Ki Ageng Jalalain disebutnya merupakan anak keturunan bangsawan yang memilih meninggalkan jabatan dunia untuk berjuang agama dan berjuang melawan penjajah.
Meski merupakan keturunan laki-laki dari Panembahan Tembayat Klaten dan anak menantu dari salah satu Adipati Grobogan, justru memilih di jalur agama dengan gelar Ki Ageng Jalalain.
”Beliau tidak memakai gelar panembahan-panembahan, langsung Ki Ageng, bahwa Ki Ageng Jalalain itu akhirnya menjadi tokoh agama di Kedaton sini. Soal itu (bisa sampai ke Pulorejo), bapak saya dan kakek saya tidak ada yang cerita. Kita tidak boleh menambah-nambahi suatu cerita,” bebernya.
Namun demikian, anak-cucu Ki Ageng Jalalain disebutnya merupakan sosok-sosok yang memiliki perhatian dengan pendidikan. Disebutnya, anak-cucunya memiliki pendidikan relatif tinggi dibandingkan warga pada umumnya.
Sebagai contoh, salah satu mantan Kepala Desa Pulorejo yang lahir pada 1945 pernah mengenyam pendidikan di IAIN Walisongo.
Urip iku Sing Prasojo...
”Kades Darto, termasuk trah keturunan itu kuliah di IAIN Walisongo. Pernah mondok juga di Bandungsari (Kecamatan Ngaringan). Saat itu kan masih jarang orang sini sudah mengenal pesantren, kampus, seperti itu,” katanya.
Selain itu, musala peninggalan Mbah Jiyo, ayah Kades Darto, yang kini menjadi masjid menjadi salah satu bukti bahwa Ki Ageng Jalalain dipercaya merupakan sosok penyebar agama Islam.
”Insyaallah beliau syiar agama. Anak cucunya banyak yang mendirikan musala, madin, dan sebagainya. Yang pasti bagi anak turun yang dekat dengan beliau, Insyaallah akan tahu welingannya (ajarannya), yakni Urip iku Sing Prasojo (hidup itu yang bersahaja),” ujarnya.
Editor: Dani Agus