Curhat Warga Mintobasuki Pati: Banjir Baru Surut Kini Kebanjiran Lagi
Umar Hanafi
Jumat, 6 Februari 2026 16:49:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Murianews, Pati – Hujan deras sejak Selasa (3/2/2026) menyebabkan beberapa desa di Kabupaten Pati kembali terendam banjir. Kondisi makin parah setelah tanggul sungai Jawik yang mengalir ke Sungai Silugonggo di Desa Pladen, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus jebol, Kamis (5/2/2026).
Salah satu yang terdampak adalah Desa Mintobasuki, Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati. Warga Desa Mintobasuki pun terpaksa pasrah dengan keadaan. Mereka kembali kebanjiran setelah sebelumnya sempat surut.
Warga Mintobasuki, Sukar mengatakan, banjir genangan di daerah tersebut baru surut dengan tuntas pada Rabu (4/2/2026). Namun banjir mulai menggenangi permukiman sejak Kamis (5/2/2026) sore.
Ketinggian air berkisar 20 sampai 50 sentimeter. Sedangkan di dalam rumah sekitar 5 sampai 10 meter.
”Ini rumah kebanjiran lagi. Baru kemarin. Banjir akibat tanggul sungai di Kudus jebol,” ungkapnya saat ditemui, Jumat (6/2/2026).
Padahal, lanjut dia, warga sudah mulai membersihkan rumah mereka setelah 25 hari terendam banjir. Sukar juga baru selesai membersihkan sisa-sisa banjir di rumahnya, Rabu (4/2/2026) kemarin.
”Kemarin sempat surut. Satu hari rumah baru dibersihin, terus naik lagi,” katanya.
Sulit Surut...
Sukar menjelaskan, genangan di desanya memang sulit surut karena debit air di Sungai Silugonggo masih tinggi dan baru beberapa hari lalu debitnya berkurang drastis. Kondisi tersebut selalu terjadi setiap ada banjir di desanya.
”Surutnya sedikit sedikit. Setiap hari 5 cm, 5 cm, sekitar satu minggu lah surutnya itu,” ujar Sukar.
Dengan kondisi banjir yang hampir setiap tahun merendam desanya, Sukar tak punya harapan lagi karena sudah pasrah dengan keadaan. Dia meminta pemerintah untuk memikirkan penyelesaian banjir.
”Harapannya gimana, wong sudah tempatnya. Tinggal pemerintahan yang mikir, mengatasinya gimana,” sebut Sukar.
Editor: Supriyadi



