Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Murianews, Pati – Produksi gabah bagi sebagian petani di Kabupaten Pati, Jawa Tengah mengalami penurunan. Hal ini dinilai terjadi lantaran cuaca yang tak menentu sejak beberapa bulan terakhir.
Ketua Serikat Petani Pati, Kamelan memaparkan saat ini petani sebagian wilayah Kabupaten Pati mulai memasuki masa panen Musim Tanam (MT) II. Namun, hasil panen tahun ini mengalami penurunan cukup signifikan dibanding musim sebelumnya.
Petani dari Desa Jambean Kidul, Kecamatan Margorejo ini menuturkan penurunan hasil panen kali ini diperkirakan mencapai hampir 20 persen. Menurutnya, ada beberapa faktor yang menyebabkan produktivitas padi menurun.
Faktor utama yang memengaruhi hasil panen adalah kondisi cuaca yang tidak menentu selama masa tanam. Hujan disertai angin yang terjadi saat fase penyerbukan menyebabkan proses pembentukan bulir padi tidak berlangsung optimal.
”Cuaca tidak stabil. Saat masa penyerbukan terjadi hujan dan angin sehingga proses penyerbukan terganggu. Itu cukup berpengaruh terhadap hasil panen,” ujar Kamelan.
Selain faktor cuaca, lanjut dia, tingginya harga sarana produksi pertanian juga menjadi penyebab menurunnya hasil panen. Harga pupuk non-subsidi dan obat-obatan pertanian terus meningkat beberapa bulan terakhir.
Kondisi ini membuat sebagian petani mengurangi intensitas pemupukan maupun penyemprotan. Menurut Kamelan, kondisi tersebut membuat perawatan tanaman tidak dapat dilakukan secara maksimal sehingga berdampak pada produktivitas lahan.
”Karena harga obat-obatan dan pupuk nonsubsidi mahal, banyak petani yang menahan biaya produksi. Akibatnya pemupukan dan penyemprotan tidak maksimal,” katanya.
Harapan petani....
Ia pun berharap kondisi cuaca seperti ini tidak panjang. Petani Pati juga menaruh harapan adanya upaya pemerintah agar pupuk non subsidi mengalami penurunan. Tingginya harga pupuk non subsidi disinyalir lantaran faktor melemahnya rupiah terhadap dolar.
Editor: Cholis Anwar



