Selain itu, AMPB juga menyoroti dugaan oknum Jaksa Kejari Pati yang melakukan pemerasan kepada keluarga yang berperkara. Bahkan, Botok mengaku juga menjadi korban pada beberapa tahun yang lalu.
”Keluarga dilobi dan diminta uang dengan janji divinis ringan. ada dua orang yang telah mengadu. Ada 30 juta ada 8 juta. Istri saya diminta 50 juta karena taruhan Pilkades,” tutur dia.
Pihaknya juga meminta Kepala Kejari Pati untuk dipindah dari Pati. AMPB menilai, Kepala Kejari Pati melindungi jaksa yang diduga bermasalah.
Botok juga membantah demo AMPB di Kejari Pati ini ada muatan dendam pribadi dengan salah satu jaksa di Kejari Pati. Oknum Jaksa itu merupakan salah satu jaksa yang menuntut Botok dan Teguh dalam sidang kasus pemblokiran jalan pantura beberapa bulan lalu.
”Tidak ada dendam pribadi. Hukum harus ditegakkan seadil-adilnya jangan karena uang,” tandas pentolan AMPB ini.
Murianews, Pati – Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) menggelar demo di depan Kantor Kejaksaan Negeri Pati (Kejari Pati), Senin (27/7/2026) sore. Demo yang sempat ricuh ini diwarnai dengan penyegelan Kantor Kejari Pati dan aksi membawa keranda.
Puluhan massa AMPB memadati depan Kantor Kejari Pati. Mereka memasang sejumlah baliho yang berisi aspirasi di pagar. Isi baliho itu di antaranya, ’Pati Ora Sepele Bersihkan Pati dari pejabat ruwut, korup’, ’Kami tidak diam demi keadilan’, ’Usir Kajari Pelindung Koruptor, dan Pati Tolak Pejabat Ruwet’.
Sebuah replika keranda juga dipasang oleh AMPB di tengah-tengah pagar Gedung Kejari Pati. Keranda tersebut bertuliskan ’Keranda Mayat Kajari Pati, Jaksa Danang Pelindung Koruptor Pemeras Rakyat’.
Demo AMPB sempat memanas. Massa dan aparat kepolisian dari Polres Pati sempat beradu argumen hingga saling dorong di tengah aksi.
Hal ini terjadi saat massa berusaha membakar ban. Namun, upaya tersebut mencoba digagalkan aparat kepolisian. Polisi menilai pembakaran ban berpotensi mengganggu ketertiban umum.
Massa pun sempat emosi. Mereka bersikukuh mencoba membakar ban. Berkali-kali massa mencoba membakar ban. Berkali-kali pula polisi menyemprotkan APAR. Adu mulut pun mewarnai aksi ini.
Di akhir aksi, salah satu pentolan AMPB Supriyanto alias Botok membentangkan kain putih di pagar Kejari Pati bertuliskan Kantor Kejari Pati disegel oleh warga.
Kepada wartawan, Botok mengaku demo AMPB ini merupakan protes warga kepada Kejari Pati soal sejumlah kasus hukum yang belum kelar hingga saat ini. Salah satunya kasus Kepala Desa Tlogosari, Kecamatan Tlogowungu yang diduga melakukan korupsi dana desa lebih dari Rp 800 juta.
”Protes tidak ditahan Kepala Desa Tlogosari,” ujar Botok.
Oknum Jaksa...
Selain itu, AMPB juga menyoroti dugaan oknum Jaksa Kejari Pati yang melakukan pemerasan kepada keluarga yang berperkara. Bahkan, Botok mengaku juga menjadi korban pada beberapa tahun yang lalu.
”Keluarga dilobi dan diminta uang dengan janji divinis ringan. ada dua orang yang telah mengadu. Ada 30 juta ada 8 juta. Istri saya diminta 50 juta karena taruhan Pilkades,” tutur dia.
Pihaknya juga meminta Kepala Kejari Pati untuk dipindah dari Pati. AMPB menilai, Kepala Kejari Pati melindungi jaksa yang diduga bermasalah.
Botok juga membantah demo AMPB di Kejari Pati ini ada muatan dendam pribadi dengan salah satu jaksa di Kejari Pati. Oknum Jaksa itu merupakan salah satu jaksa yang menuntut Botok dan Teguh dalam sidang kasus pemblokiran jalan pantura beberapa bulan lalu.
”Tidak ada dendam pribadi. Hukum harus ditegakkan seadil-adilnya jangan karena uang,” tandas pentolan AMPB ini.
Editor: Budi Santoso