Anak Putus Sekolah di Kudus Dapat Pendampingan Usaha
Wiwid Widia Yulhendrik
Selasa, 28 Juli 2026 00:21:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Murianews, Kudus – Sebanyak 20 anak putus sekolah di Kabupaten Kudus tak hanya dibekali keterampilan membordir melalui Program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) Kejuruan Bordir Tahun 2026.
Peserta juga akan mendapat pendampingan usaha dan bantuan mesin bordir sebagai modal awal untuk membangun usaha secara mandiri.
Program hasil kolaborasi Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Kudus dengan Direktorat Kursus dan Pelatihan, Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi dan Pendidikan Layanan Khusus Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) itu resmi ditutup pada Senin (27/7/2026).
Pada penutupan tersebut, para peserta yang merupakan anak putus sekolah menerima bantuan mesin bordir multifungsi yang dapat digunakan untuk menjahit sekaligus membordir. Bantuan itu menjadi modal awal bagi mereka untuk membuka usaha dari rumah setelah menyelesaikan pelatihan selama 36 hari.
Ketua Dekranasda Kabupaten Kudus Endhah Samani Intakoris mengatakan, penyerahan mesin menjadi tindak lanjut dari pelatihan yang telah membekali peserta dengan berbagai keterampilan membordir. Bahkan, hasil karya peserta sudah dipamerkan pada penutupan kegiatan.
”Hari ini anak-anak sudah memamerkan hasil pelatihan selama 36 hari. Ada yang membuat baju, tempat tisu, hingga tatakan piring dan tatakan gelas. Harapannya mereka bisa menggunakan mesin ini sebagai bekal hidup,” ujarnya.
Menurutnya, bantuan tersebut diharapkan menjadi jalan bagi peserta yang merupakan anak putusa sekolah bisa memperoleh penghasilan sendiri. Sekaligus juga membantu perekonomian keluarga.
Dekranasda Kudus juga akan berupaya melibatkan mereka apabila terdapat pesanan produk bordir agar kemampuan yang dimiliki terus berkembang.
”Kalau nanti ada pesanan, kami usahakan anak-anak ini ikut mengerjakan. Jadi selain mandiri juga mendapat pemasukan dan bisa terus mengembangkan bakat serta minatnya di bidang bordir,” katanya.
Sasaran...
Ia menjelaskan, sasaran program memang ditujukan bagi anak-anak putus sekolah sesuai kriteria yang ditetapkan Kemendikdasmen. Peserta merupakan warga berusia di bawah 25 tahun, tidak sedang menempuh pendidikan maupun kuliah, serta diprioritaskan berasal dari keluarga penerima bantuan sosial.
Meski demikian, jumlah peserta yang dapat difasilitasi masih sangat terbatas. Tahun ini, program baru menjangkau 20 anak putus sekolah dari berbagai kecamatan di Kabupaten Kudus.
”Kami berharap tahun depan ada program serupa lagi. Yang bisa kami bantu sekarang baru sebagian kecil, padahal masih banyak anak-anak yang membutuhkan pelatihan seperti ini agar memiliki bekal hidup,” ungkapnya.
Sementara itu, instruktur pelatihan Sri Darojatun mengatakan pendampingan tidak berhenti setelah pelatihan selesai. Peserta akan terus dibimbing dalam pengembangan produk hingga strategi pemasaran melalui media sosial.
Menurutnya, peserta yang merupakan anak putus sekolah akan didorong memasarkan produk bordir melalui sistem pre-order (PO) sembari terus meningkatkan kemampuan produksi menggunakan mesin yang telah diberikan.
”Yang namanya bordir membutuhkan jam terbang. Setelah pelatihan selesai mereka tetap kami dampingi, mulai dari contoh produk, pemasaran lewat media sosial, sampai benar-benar mampu menjalankan usahanya sendiri,” tandasnya.
Editor: Budi Santoso



