Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Murianews, Kudus – Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus mencatat ada 86 pasien yang terkena penyakit Tuberculosis (TBC) meninggal dunia tahun ini. Data pasien meninggal ini, tercatat mulai bulan Januari hingga awal September 2023.

Jumlah pasien meninggal ini, mengalami peningkatan setiap tahunnya. Dimana tahun 2021 ada sebanyak 47 kasus meninggal, dan tahun 2022 ada 58 kasus pasien TBC yang meninggal.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Andini Aridewi mengatakan, pasien tersebut meninggal tidak hanya murni karena penyakit TBC saja. Melainkan memiliki penyakit penyerta.

Penyakit penyerta tersebut, seperti diabetes melitus (DM), hipertensi, hingga gangguan fungsi hati.

”Kalau Tbnya sudah diobati dengan rutin, dan dia juga konsisten minum obat itu kemungkinan besar bisa sembuh. Kemungkinan meninggalnya karena ada penyakit penyerta,” katanya, Rabu (12/9/2023)

Ia menjelaskan, kelompok rentan yang mudah terkena atau tertular penyakit TBC berada diusia produktif atau sekitar usia 20-55 tahun. Terlebih, jika mereka memiliki riwayat penyakit.

”Kemudian, dipengaruhi dengan hygine sanitasi yang rendah serta input gizi yang kurang. Kebanyakan usia produktif yang penularannya tidak hanya bisa dilingkup keluarga, tapi bisa juga dilingkungan dia kerja. Ini harus diwaspadai,” tambahnya.

Ia menjelaskan, upaya pencegahan dan pengendalian TBC saat ini tengah digencarkan dengan melibatkan berbagai stakeholder dari lintas sektoral hingga komunitas.

”Baik itu dari penemuan kasus suspek, pengawalan pengobatan, pencegahan penularan dengan investigasi kontak, hingga pendalaman penyakit penyerta pasien,” ungkapnya.

Sebagai informasi, sebanyak 8.363 kasus suspek TBC sudah ditemukan pada tahun 2023 ini. Dari jumlah tersebut, lebih dari seribu pasien positif TBC dan tengah menjalani pengobatan.

Di ataranya, ada penderita TBC yang sensitif terhadap obat anti TB sebanyak 1.637 kasus. Kemudian, penderita TBC resisten obat (RO) sebanyak 46 kasus.

Editor: Dani Agus

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler