Internasional
Cabut Kedaruratan Cacar Monyet di Afrika, WHO Tetap Lakukan Ini
Zulkifli Fahmi
Sabtu, 6 September 2025 12:14:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Ia menyebutkan, masih ada kemungkinan wabah kembali berlanjut dan munculnya wabah baru yang membutuhkan pengawasan dan kapasitas respons yang memadai. Upaya itu diperlukan guna melindungi kelompok yang paling rentan, terutama anak-anak dan penderita HIV.
Sebagai informasi, cacar monyet alias Mpox merupakan penyakit zoonosis virus. Seseorang yang terinfeksi akan mengalami gejala awal seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, nyeri punggung, dan pembengkakan getah kelenjar bening.
Gejala kemudian berkembang menjadi ruam yang menyebar luas di wajah dan tubuh. Sebagian besar individu yang terinfeksi dapat pulih dalam beberapa pekan, tetapi beberapa mungkin mengalami penyakit parah, bahkan kematian.
Sejak Mei 2022, lebih dari 100 negara dan kawasan di seluruh dunia telah melaporkan kasus cacar monyet. Pada Agustus 2024, WHO scara resmi mengungumkan PHEIC wabah cacar monyet di Afrika.



