Program Konservasi, Ratusan Hektar Lahan di Tempur Akan Ditanami Kopi
Faqih Mansur Hidayat
Jumat, 29 Mei 2026 14:56:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Murianews, Jepara - Pemerintah Kabupaten Jepara (Pemkab Jepara), Jawa Tengah (Jateng) bersama sebuah perusahaan swasta berencana melakukan konservasi lereng Pegunungan Muria. Salah satu rencananya adalah menanam pohon kopi.
Kabid Pengendalian, Pencemaran dan Pemeliharaan Lingkungan Hidup pada Dinas Lingkungan Hidup Jepara (DLH Jepara), Nexon Hasiholan menyebut, kolaborasi ini dilakukan pemerintah bersama Djarum Fundation Bhakti Lingkungan. Rencananya, konservasi akan dilakukan di 1.700 hektar lahan lereng Muria, yang berada di sepuluh desa.
"Rencananya program ini berjalan selama 2026-2033. Tapi start-nya di Desa Tempur tahun ini," sebut Nexon, Jumat (29/5/2026).
Di Desa Tempur sendiri rencananya konservasi akan dilakukan di lahan sekitar 221 hektar. Di atas lahan itu, akan ditanam pohon kopi. Namun ada pula pohon naungan seperti alpukat dan pete. Program ini juga sudah disosialisasikan kepada pemerintah desa dan masyarakat.
"Kegiatan itu tentu ada pendekatan dengan masyarakat terkait bibit yang diinginkan. Kuncinya adalah sinergi antara ekologi dan ekonomi," jelas Nexon.
Nexon menyebut sudah ada titik-titik calon lokasi konservasi. Namun masih perlu dikaji lebih dalam.Nexon menyadari bahwa pada Januari 2026 lalu, Desa Tempur dihantam bencana longsor sangat hebat. Bahkan desa tertinggi di Jepara itu sempat terisolasi karena seluruh akses jalan terputus akibat banjir disertai longsor.
"Soal itu perlu adanya kesepakatan yang diambil. Antara ekologi dan ekonomi harus seimbang. Kalaupun nanti ditanami kopi, harus ada tanaman keras lain sebagai pengikat tanah," imbuh dia.
Murianews.com sudah berupaya berkomunikasi lewat pesan singkat dan telepon kepada pihak Djarum Fundation Bhakti Lingkungan yang berkolaborasi dengan DLH Jepara. Namun hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan apapun.
Pertimbangan Matang...
- 1
- 2



