Jumat, 24 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Terpisah, Kepala Desa Tempur, Maryono menyebut sekitar dua pekan lalu sudah dilakukan sosialisasi kepada masyaakat dan petani. Rencananya, program konservasi itu akan dijalankan lewat kelompok tani.

"Soal jenis tanamannya, tinggal kemauan masyaraka," kata Maryono.

Di sisi lain, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sido Makmur Desa Tempur, Syaiful Anwar, justru mengaku belum diajak berembuk atau mendapat sosialisasi secara langsung terkait program konservasi ini.

"Saya malah tidak tahu kalau mau ada program tersebut," ungkap Anwar.

Menurutnya, jika benar yang akan ditanam kopi, rencana penanaman di lahan 221 hektar itu perlu dipertimbangkan dengan matang. Dia justru menginginkan ada bantuan tanaman buah dengan karakter pohon keras sebagai naungan kopi yang sudah ada. Seperti pete atau jengkol.

"Kala mau ada pembukaan lahan baru (untuk tanam kopi) saya malah tidak setuju. Karena itu pasti akan berdampak (negatif). Sumber mata air berkurang, pengikat tanah minim. Saya lebih setuju kalau penataan yang sudah ada," tegas Anwar.

Di sisi lain, Anwar masih belum bisa melupakan bencana besar yang menghantam desanya lima bulan lalu itu. Belajar dari bencana longsor itu, masyarakat desa Tempur harus lebih hati-hati dalam mengelola lahan.

Anwar menyebut, total lahan di Desa Tempur yang sudah ditanami kopi sekitar 500 hektar lebih. Baik tanah milik warga maupun negara, dengan total produksi sekitar 670 ton Kopi Tempur di tahun 2025.

"Dengan hasil itu, saya pikir sudah cukup mensejahterakan masyarakat. Tapi kalau mau ngomong kurang, namanya manusia pasti enggak ada cukupnya. Tapi menurut saya, lahan yang sudah ada itu dicukupkan, dikelola dengan maksimal," tutur Anwar, menanggapi rencana program konservasi itu.

Editor: Budi Santoso

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler