Terpisah, Kepala Desa Tempur, Maryono menyebut sekitar dua pekan lalu sudah dilakukan sosialisasi kepada masyaakat dan petani. Rencananya, program konservasi itu akan dijalankan lewat kelompok tani.
"Soal jenis tanamannya, tinggal kemauan masyaraka," kata Maryono.
Di sisi lain, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sido Makmur Desa Tempur, Syaiful Anwar, justru mengaku belum diajak berembuk atau mendapat sosialisasi secara langsung terkait program konservasi ini.
"Saya malah tidak tahu kalau mau ada program tersebut," ungkap Anwar.
Menurutnya, jika benar yang akan ditanam kopi, rencana penanaman di lahan 221 hektar itu perlu dipertimbangkan dengan matang. Dia justru menginginkan ada bantuan tanaman buah dengan karakter pohon keras sebagai naungan kopi yang sudah ada. Seperti pete atau jengkol.
"Kala mau ada pembukaan lahan baru (untuk tanam kopi) saya malah tidak setuju. Karena itu pasti akan berdampak (negatif). Sumber mata air berkurang, pengikat tanah minim. Saya lebih setuju kalau penataan yang sudah ada," tegas Anwar.
Di sisi lain, Anwar masih belum bisa melupakan bencana besar yang menghantam desanya lima bulan lalu itu. Belajar dari bencana longsor itu, masyarakat desa Tempur harus lebih hati-hati dalam mengelola lahan.
Anwar menyebut, total lahan di Desa Tempur yang sudah ditanami kopi sekitar 500 hektar lebih. Baik tanah milik warga maupun negara, dengan total produksi sekitar 670 ton Kopi Tempur di tahun 2025.
"Dengan hasil itu, saya pikir sudah cukup mensejahterakan masyarakat. Tapi kalau mau ngomong kurang, namanya manusia pasti enggak ada cukupnya. Tapi menurut saya, lahan yang sudah ada itu dicukupkan, dikelola dengan maksimal," tutur Anwar, menanggapi rencana program konservasi itu.
Murianews, Jepara - Pemerintah Kabupaten Jepara (Pemkab Jepara), Jawa Tengah (Jateng) bersama sebuah perusahaan swasta berencana melakukan konservasi lereng Pegunungan Muria. Salah satu rencananya adalah menanam pohon kopi.
Kabid Pengendalian, Pencemaran dan Pemeliharaan Lingkungan Hidup pada Dinas Lingkungan Hidup Jepara (DLH Jepara), Nexon Hasiholan menyebut, kolaborasi ini dilakukan pemerintah bersama Djarum Fundation Bhakti Lingkungan. Rencananya, konservasi akan dilakukan di 1.700 hektar lahan lereng Muria, yang berada di sepuluh desa.
"Rencananya program ini berjalan selama 2026-2033. Tapi start-nya di Desa Tempur tahun ini," sebut Nexon, Jumat (29/5/2026).
Di Desa Tempur sendiri rencananya konservasi akan dilakukan di lahan sekitar 221 hektar. Di atas lahan itu, akan ditanam pohon kopi. Namun ada pula pohon naungan seperti alpukat dan pete. Program ini juga sudah disosialisasikan kepada pemerintah desa dan masyarakat.
"Kegiatan itu tentu ada pendekatan dengan masyarakat terkait bibit yang diinginkan. Kuncinya adalah sinergi antara ekologi dan ekonomi," jelas Nexon.
Nexon menyebut sudah ada titik-titik calon lokasi konservasi. Namun masih perlu dikaji lebih dalam.Nexon menyadari bahwa pada Januari 2026 lalu, Desa Tempur dihantam bencana longsor sangat hebat. Bahkan desa tertinggi di Jepara itu sempat terisolasi karena seluruh akses jalan terputus akibat banjir disertai longsor.
"Soal itu perlu adanya kesepakatan yang diambil. Antara ekologi dan ekonomi harus seimbang. Kalaupun nanti ditanami kopi, harus ada tanaman keras lain sebagai pengikat tanah," imbuh dia.
Murianews.com sudah berupaya berkomunikasi lewat pesan singkat dan telepon kepada pihak Djarum Fundation Bhakti Lingkungan yang berkolaborasi dengan DLH Jepara. Namun hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan apapun.
Pertimbangan Matang...
Terpisah, Kepala Desa Tempur, Maryono menyebut sekitar dua pekan lalu sudah dilakukan sosialisasi kepada masyaakat dan petani. Rencananya, program konservasi itu akan dijalankan lewat kelompok tani.
"Soal jenis tanamannya, tinggal kemauan masyaraka," kata Maryono.
Di sisi lain, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sido Makmur Desa Tempur, Syaiful Anwar, justru mengaku belum diajak berembuk atau mendapat sosialisasi secara langsung terkait program konservasi ini.
"Saya malah tidak tahu kalau mau ada program tersebut," ungkap Anwar.
Menurutnya, jika benar yang akan ditanam kopi, rencana penanaman di lahan 221 hektar itu perlu dipertimbangkan dengan matang. Dia justru menginginkan ada bantuan tanaman buah dengan karakter pohon keras sebagai naungan kopi yang sudah ada. Seperti pete atau jengkol.
"Kala mau ada pembukaan lahan baru (untuk tanam kopi) saya malah tidak setuju. Karena itu pasti akan berdampak (negatif). Sumber mata air berkurang, pengikat tanah minim. Saya lebih setuju kalau penataan yang sudah ada," tegas Anwar.
Di sisi lain, Anwar masih belum bisa melupakan bencana besar yang menghantam desanya lima bulan lalu itu. Belajar dari bencana longsor itu, masyarakat desa Tempur harus lebih hati-hati dalam mengelola lahan.
Anwar menyebut, total lahan di Desa Tempur yang sudah ditanami kopi sekitar 500 hektar lebih. Baik tanah milik warga maupun negara, dengan total produksi sekitar 670 ton Kopi Tempur di tahun 2025.
"Dengan hasil itu, saya pikir sudah cukup mensejahterakan masyarakat. Tapi kalau mau ngomong kurang, namanya manusia pasti enggak ada cukupnya. Tapi menurut saya, lahan yang sudah ada itu dicukupkan, dikelola dengan maksimal," tutur Anwar, menanggapi rencana program konservasi itu.
Editor: Budi Santoso