Rabu, 22 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Murianews, Blora – Kenaikan harga kedelai membuat perajin tempe rumahan di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, terpaksa menaikkan harga jual.

Harga kedelai yang sebelumnya sekitar Rp 9.500 per kilogram kini naik menjadi hampir Rp 12.000 per kilogram. Kondisi ini membuat para perajin harus memutar otak agar tetap bisa bertahan.

Salah satu perajin tempe, Endang, mengaku terpaksa menaikkan harga jual tempe sebesar Rp 1.000 per kilogram. Dari sebelumnya Rp 14.000, kini menjadi Rp 15.000 per kilogram.

”Kenaikan harga kedelai cukup memberatkan, jadi mau tidak mau harga tempe ikut naik,” ujarnya, jumat (10/4/2026).

Tak hanya itu, Endang juga mengurangi jumlah produksi. Saat ini ia hanya mampu memproduksi sekitar 20 kilogram tempe per hari karena permintaan menurun.

Selain dampak harga kedelai, perajin juga menghadapi kenaikan harga bahan pendukung lainnya. Endang mengaku kini beralih dari kemasan plastik ke daun jati karena harga plastik ikut naik.

Kondisi ini semakin menekan usaha perajin tempe kecil yang bergantung pada stabilitas harga bahan baku. Mereka berharap harga kedelai bisa kembali stabil agar usaha tetap berjalan normal.

Editor: Cholis Anwar

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Berita Terkini

Terpopuler