Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Murianews, Grobogan – Dinas Pertanian Grobogan akan menggelar Grobogan Agro Expo bulan depan. Salah satu agendanya yakni membuat rekor Muri memanen padi menggunakan ani-ani dengan peserta 600 orang. Namun, apa itu ani-ani?

Ani-ani mungkin istilah yang asing bagi generasi sekarang. Sebab, ani-ani terakhir kali populer pada sekitar tahun 1970-an.

Dikutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ani-ani merupakan pisau pemotong padi dari kayu dan bambu saling menyilang dengan pisau kecil yang ditancapkan pada bagian muka kayu.

Di era modern ini, memanen padi menggunakan combine mesin panen yang lebih canggih. Mesin ini digunakan untuk mempercepat proses panen.

Sebelum era combine seperti sekarang, para petani memanen padi dengan sabit. Namun, mundur sekitar 50 tahun lalu, orang-orang masih menggunakan ani-ani untuk memanen padi.

Menurut ingatan Sukri (59), seorang warga Grobogan, memanen padi menggunakan ani-ani memakan waktu sangat lama. Sebab, memanen dengan ani-ani, batang padi dipotong satu per satu. Berbeda dengan saat memakai sabit yang bisa langsung satu genggam sekali potong.

”Dahulu orang bekerja memanen padi diupah dengan padi hasil panen itu sendiri, sesuai kesepakatan. Kadang sepersepuluh bisa seperduabelas, bahkan seperenambelas dari hasil panen. Jadi misalnya dalam sekali waktu memanen dapat 12 genggam batang padi, yang kerja dapat satu genggam,” ujarnya, Sabtu (15/6/2024).

Sukri yang merupakan petani sejak kecil itu menuturkan, satu genggam batang padi itu terkadang saat jadi padi tidak sampai memenuhi panci kecil. Tentu, saat menjadi beras akan lebih sedikit lagi.

Sementara itu, Mukti, warga Grobogan lainnya mengatakan, beras pada tahun 1970-an masih merupakan barang mewah. Sehari-hari, masyarakat di lingkungannya saat itu memakan nasi jagung, nasi ketelai, atau juga nasi tiwul.

”Saat itu, orang makan beras itu sangat jarang. Beras jadi barang mewah. Sehari-hari makannya kadang nasi thiwul, nasi jagung, atau nasi ketela,” katanya.

Editor: Zulkifli Fahmi

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler