Masalahnya, kata Didik, selama SPBN Ujungbatu tak mendapat kiriman dari Pertamina, para penyedia jasa kesulitan mendapat solar. Mereka harus membeli di Kelurahan Bulu.
Pada Jumat (24/7/2026) lalu, Didik sudah mengambil nomor antrean di SPBN Bulu. Dia mendapat urutan ke 26. Tak ada yang bisa memastikan kapan dia bisa dilayani.
"Kemungkinan baru dapat solar itu kalau enggak Kamis ya, Jumat besok. Enggak nentu," ujar Didik.
Sementara itu, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jepara, Eko Wilman menyatakan, selama ini kebutuhan solar nelayan di pesisir Jepara Kota dipenuhi di SPBN Ujungbatu.
Sehingga karena tak ada kiriman, nelayan harus membelinya ke tempat lain. Di sisi lain, nelayan juga menggantungkan kebutuhan solar kepada para penyedia jasa.
"Nelayan juga butuh penyedia jasa tersebut. Karena kondisi, sehabis melaut nelayan masih disibukkan dengan berbagai pekerjaan. Seperti mengurus kapal, jaring dan lainnya," ucap Eko.
Melihat situasi yang semakin menyulitkan nelayan ini, Eko mendesak Perusahaan Umum Daerah (Perusda) Aneka Usaha Jepara selaku operator SPBN Ujungbatu agar segera bertindak.
"Kami akan berkomunikasi dengan Perusda, apa sebenarnya masalahnya. Kami minta agar segera diselesaikan. Agar kuota solar untuk nelayan ini menjadi maksimal," tegas Eko.
Murianews, Jepara - Sudah sebulan lamanya Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan Ujung Batu (SPBN Ujungbatu), Kecamatan Jepara, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah (Jateng) tak mendapat kiriman solar dari pihak Pertamina.
Akibatnya, para nelayan Jepara pun kelimpungan. Mereka kesulitan untuk mendapatkan solar untuk keperluan melaut.
Mahfud Ibrahim, Operator SPBN Ujungbatu Jepara menyebut, kiriman solar terakhir dari Pertamina pada 28 Juni 2026 lalu. Sejak saat itu, Pertamina tak lagi mengirim solar subsidi hingga sekarang.
"Hitungannya sudah sebulan ini enggak ada kiriman dari Pertamina. (Alasannya) Belum ada laporan tahunan yang masuk ke Pertamina," kata Mahfud saat ditemui Murianews.com di SPBN Ujungbatu, Selasa (28/7/2026).
Biasanya, lanjut Mahfud, SPBN Ujungbatu mendapat alokasi solar subsidi sekitar 180-200 kilo liter dalam sebulan. SPBN ini diprioritaskan untuk nelayan di sekitar Kelurahan Ujungbatu.
Setiap nelayan dibatasi beli solar maksimal sekitar 70 liter dalam sehari. Dalam praktiknya, sebagian besar nelayan memilih tak membeli sendiri ke SPBN. Mereka membeli solar kepada penyedia jasa.
Didik Prasetyo, salah satu penyedia jasa yang merupakan warga Kelurahan Jobokuto menyebut, dalam sekali beli, dia bisa mendapat sekitar 400 liter. Jasa ini dianggap penting bagi sebagian nelayan. Sebab mereka seringkali tak cukup waktu untuk mengantre di SPBN.
"Saya beli ke SPBN ya, tetap harus menggunakan barcode sejumlah nelayan. Ada surat kuasa dari nelayan kepada saya untuk membeli. Nanti nelayan bisa ambil ke saya," jelas Didik.
Penyedia Jasa...
Masalahnya, kata Didik, selama SPBN Ujungbatu tak mendapat kiriman dari Pertamina, para penyedia jasa kesulitan mendapat solar. Mereka harus membeli di Kelurahan Bulu.
Pada Jumat (24/7/2026) lalu, Didik sudah mengambil nomor antrean di SPBN Bulu. Dia mendapat urutan ke 26. Tak ada yang bisa memastikan kapan dia bisa dilayani.
"Kemungkinan baru dapat solar itu kalau enggak Kamis ya, Jumat besok. Enggak nentu," ujar Didik.
Sementara itu, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jepara, Eko Wilman menyatakan, selama ini kebutuhan solar nelayan di pesisir Jepara Kota dipenuhi di SPBN Ujungbatu.
Sehingga karena tak ada kiriman, nelayan harus membelinya ke tempat lain. Di sisi lain, nelayan juga menggantungkan kebutuhan solar kepada para penyedia jasa.
"Nelayan juga butuh penyedia jasa tersebut. Karena kondisi, sehabis melaut nelayan masih disibukkan dengan berbagai pekerjaan. Seperti mengurus kapal, jaring dan lainnya," ucap Eko.
Melihat situasi yang semakin menyulitkan nelayan ini, Eko mendesak Perusahaan Umum Daerah (Perusda) Aneka Usaha Jepara selaku operator SPBN Ujungbatu agar segera bertindak.
"Kami akan berkomunikasi dengan Perusda, apa sebenarnya masalahnya. Kami minta agar segera diselesaikan. Agar kuota solar untuk nelayan ini menjadi maksimal," tegas Eko.
Perusda...
Menanggapi itu, Direktur Utama Perusda Aneka Usaha Jepara, Wike Dwi Utomo menjelaskan, muara masalahnya adalah kontrak lahan SPBN Ujungbatu sudah habis. Lahan itu merupakan tanah milik Pemkab Jepara.
Wike mengatakan, dalam pengoperasian SPBN Ujungbatu dikelola oleh Perusda bersama PT Petronusa. Pemilik izin prinsipnya adalah PT Petronusa. Sedangkan Perusda hanya berperan sebagai operator.
"Jadi pengurusan administrasi, perizinan kaya gitu-gitu itu Petronusa. Bukan kami," jelas Wike.
Terlepas dari itu, Wike memastikan masalah dengan Pertamina sudah diurus. Dia bilang, Agustus 2026 pihak Pertamina akan kembali mengalokasikan solar subsidi ke SPBN Ujungbatu.
"Insyaallah bulan depan sudah ada alokasi lagi," pungkas Wike.
Editor: Budi Santoso