Kerusakan juga menyasar sejumlah fasilitas publik dan tempat ibadah, di antaranya dua unit gereja, satu unit bangunan sekolah, satu unit rumah dinas guru, serta satu unit gedung GMIM 76 yang berada di Kabupaten Minahasa Utara.
Pihak berwenang menegaskan bahwa seluruh data kerusakan ini masih bersifat sementara dan akan terus diperbarui seiring proses asesmen cepat yang dilakukan oleh tim reaksi cepat di lapangan.
Sejauh ini, sebaran dampak guncangan gempa dilaporkan merata di beberapa kecamatan. Di Kabupaten Kepulauan Sangihe, wilayah terdampak meliputi Kecamatan Marore, Tabukan Tengah, Tabukan Selatan, Tabukan Selatan Tengah, Tahuna, dan Tahuna Barat.
Sementara di Kabupaten Kepulauan Talaud, dampak dirasakan di Kecamatan Rainis, dan di Kabupaten Minahasa Utara guncangan terpantau di Kecamatan Likupang Barat.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari dalam keterangan tertulisnya mengimbau masyarakat untuk tidak panik dan tidak mudah percaya pada informasi yang belum jelas sumbernya.
BNPB meminta masyarakat untuk tidak menyebarkan berita hoaks dan selalu merujuk pada pengumuman resmi dari lembaga kredibel seperti BMKG, BNPB, BPBD, serta pemerintah daerah setempat.
Murianews, Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis pembaruan data penanganan pascagempa bumi tektonik berkekuatan besar Magnitudo 7,7 yang mengguncang Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, pada Senin pagi pukul 06.37 WIB.
Kabar baiknya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara resmi telah menyatakan bahwa peringatan dini tsunami pascagempa dinyatakan berakhir.
Dengan selesainya status waspada tersebut, warga di wilayah pesisir kini sudah bisa lebih tenang, namun tetap diminta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi gempa susulan.
Pusat gempa dahsyat ini dilaporkan berada di laut pada koordinat 5,79 LU dan 125,14 BT dengan kedalaman 47 kilometer. Guncangannya yang kuat sempat memicu kepanikan warga di Kepulauan Sangihe selama sekitar 3 hingga 4 detik.
Selain Sangihe, getaran gempa juga dirasakan di beberapa wilayah lain di Sulawesi Utara dengan intensitas lemah hingga sedang selama beberapa detik, seperti di Kabupaten Kepulauan Talaud, Kota Manado, hingga Kabupaten Minahasa Utara.
Berdasarkan laporan terkini dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) per Senin siang pukul 12.30 WIB, dampak kerusakan material akibat gempa ini mulai terdata.
Sebanyak 27 kepala keluarga dilaporkan terdampak langsung oleh bencana ini, dengan rincian 20 kepala keluarga berada di Kabupaten Kepulauan Sangihe dan 7 kepala keluarga di Kabupaten Kepulauan Talaud.
Selain berdampak pada warga, guncangan tektonik ini juga merusak 27 unit rumah tinggal masyarakat yang tersebar di wilayah Sangihe dan Talaud.
Fasilitas Publik Ikut Rusak...
Kerusakan juga menyasar sejumlah fasilitas publik dan tempat ibadah, di antaranya dua unit gereja, satu unit bangunan sekolah, satu unit rumah dinas guru, serta satu unit gedung GMIM 76 yang berada di Kabupaten Minahasa Utara.
Pihak berwenang menegaskan bahwa seluruh data kerusakan ini masih bersifat sementara dan akan terus diperbarui seiring proses asesmen cepat yang dilakukan oleh tim reaksi cepat di lapangan.
Sejauh ini, sebaran dampak guncangan gempa dilaporkan merata di beberapa kecamatan. Di Kabupaten Kepulauan Sangihe, wilayah terdampak meliputi Kecamatan Marore, Tabukan Tengah, Tabukan Selatan, Tabukan Selatan Tengah, Tahuna, dan Tahuna Barat.
Sementara di Kabupaten Kepulauan Talaud, dampak dirasakan di Kecamatan Rainis, dan di Kabupaten Minahasa Utara guncangan terpantau di Kecamatan Likupang Barat.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari dalam keterangan tertulisnya mengimbau masyarakat untuk tidak panik dan tidak mudah percaya pada informasi yang belum jelas sumbernya.
BNPB meminta masyarakat untuk tidak menyebarkan berita hoaks dan selalu merujuk pada pengumuman resmi dari lembaga kredibel seperti BMKG, BNPB, BPBD, serta pemerintah daerah setempat.